Imelda C. Herawati
MEREKA BUTUH KITA
(Kumpulan kisah menakjubkan tentang Anak-anak
Berkebutuhan Khusus dan proses belajar mereka)
Kisah Pertama
Usianya 8 tahun saat ia diperkenalkan kepadaku. Pada dasarnya ia anak yang tertib dan penurut, meskipun sikap manisnya itu hanya mampu ditunjukkan untuk waktu sesaat, tidak lebih dari dua menit. Selanjutnya ia lebih banyak tenggelam dalam dunianya sendiri, berlarian ke sana ke mari tanpa mudah dimengerti apa maksudnya.
Kemampuan verbalnya sangat terbatas dan sulit dimengerti. Yang sering keluar dari mulut mungilnya hanyalah kata-kata: ti ... ti ..., te... te ..., eh ... eh ...., sehingga awalnya aku mengalami kesulitan untuk memahami maksud dari kata-katanya itu.
Tetapi sesungguhnya ia anak yang pintar. Lewat bahasa tubuhnya ia berupaya menyampaikan maksud ucapan singkatnya itu, sehingga akhirnya aku bisa mengerti apa yang diinginkan.
Bocah manis itu bernama Gio. Lengkapnya, Giovani Hendra Gunawan. Menurut diagnosa medis, Gio menderita gangguan pada perkembangan pervasif otak. Tepatnya Gio mengidap hidrosiphalus dan autistik. Beruntung kedua orangtuanya cukup tanggap terhadap kondisi yang dialami sang anak, sehingga Gio segera mendapatkan pertolongan medis, meskipun hal itu harus dilakukan di Singapura.
Setelah berobat di salah satu rumah sakit di Singapura, penderitaan Gio sedikit berkurang dengan penyakit hidrosiphalus-nya. Dokter-dokter yang menanganinya berhasil mengeluarkan cairan yang bersarang di otak lewat operasi pemasangan slang plastik yang ditanamkan dalam tubuh dan dikeluarkan lewat saluran seni. Dengan kemajuan teknologi, apapun bisa dilakukan asalkan kita mempunyai dana cukup untuk mendapatkan semua itu.
Dengan kondisi Gio seperti itu, kedua orangtuanya bersepakat untuk tidak mempunyai anak lagi. Mereka ingin memberikan seluruh perhatian dan hidup mereka untuk anak semata wayangnya itu. Pendidikan, perawatan dan makanan selalu mereka prioritaskan demi penyembuhan dan kebaikan anak mereka.
* * *
“Gio ... Gi... o, ambil bolanya sayang,” begitu aku coba menyampaikan instruksi agar ia mau mengambil bola dalam genggaman tanganku. Tapi tidak sedikit pun reaksi aku dapatkan darinya. Jangankan bereaksi, melihat pun tidak.
“Gio ... ambil bolanya!” Kuulangi lagi instruksi tersebut. Tapi kali ini tatapan matanya saja yang aku terima tanpa upaya Gio mengambil bola dari tanganku.
“Gi ... o ..., bo ... la ..., am ... bil,” ucapku lebih keras. Kali ini dengan penekanan suku kata demi suku kata. Dengan ragu-ragu ia mulai berjalan ke arahku, dan... “Ya ..., Gio pintar ...!” Teriakku pada akhirnya.
Sekalipun aku berucap dengan suara cukup keras, disertai kata-kata sanjungan kepadanya, Gio tetap saja tidak menunjukkan ekspresi apapun. Tatapannya dingin, sedingin salju.
“Ya Tuhan, kenapa Engkau lahirkan ke dunia anak-anak seperti ini? Mereka tidak bersalah, tetapi mereka harus menderita dalam menjalani hari-hari kehidupan mereka yang panjang.”
Namun, setelah aku renungkan secara mendalam, aku medapatkan jawaban bahwa dibalik semua cobaan yang diberikan oleh Tuhan itu tentunya ada hikmah yang dapat dipetik oleh para orang tua mereka.
* * *
Hari demi hari berlalu, tidak terasa hampir sebulan Gio mengikuti program belajar pada lembaga pendidikan yang aku dirikan untuk anak-anak berkebutuhan khusus seperti Gio. Program belajar yang kami berikan adalah Homeschooling, yaitu kegiatan belajar-mengajar plus terapi yang dilakukan di rumah. Meskipun baru berlangsung satu bulan, tingkat hiperaktif Gio mulai berkurang. Ia sudah mau mengikuti instruksi-instruksi, seperti instruksi untuk duduk manis saat mengikuti kegiatan belajar.
Aku pun merasakan adanya perubahan itu. Aku kini sudah tidak lagi berlarian ke sana ke mari untuk menangkap tubuh kecilnya dan merayunya untuk duduk manis di kursi. Senyum bahagia tersungging di bibirku manakala melihat kemajuan yang dialami oleh Gio.
Kuakui bahwa ada perasaan puas, bangga dan bahagia melihat kemajuan perilaku Gio. Tetapi aku menyadari bahwa aku tak boleh cepat puas dan terlalu percaya diri, sebab perjalanan membantu Gio menjadi anak yang mandiri dan berguna belum selesai. Anggap saja ini baru tahap awal dari program kemandirian yang aku siapkan untuk Gio.
Meskipun didiaknosa mengidap hidrosiphalus dan autistik, yang kata orang sulit disembuhkan, apalagi dididik dan menyerap materi ajar, tetapi aku tetap optimis dan bersemangat menjadikan Gio pribadi yang mandiri dan berguna. Setidaknya ia bisa merawat dirinya sendiri bila dewasa kelak.
Kebetulan pada pagi yang cerah di bulan Februari 2008, jadwal Gio adalah melakukan aktivitas bermain bola. Awalnya ia nampak bersemangat saat melihat aku membawa bola warna kuning kesukaannya. Tanpa menunggu instruksi, Gio bergegas mencari sepatu dan kaos kakinya. Meskipun belum sempurna, Gio terus berusaha mengenakan sendiri kaos kaki tersebut.
“Te ..., te ..., te ..., te ....“ ucapnya memanggilku. Aku yang duduk di sampingnya segera melihat ke arahnya.
“Ada apa? Ayo dicoba dulu, jangan menyerah. Gio bisa,” kataku padanya.
Gio terus berusaha memasukkan kakinya ke dalam sepatu. Lucu juga saat kuperhatikan raut wajahnya yang mulai memerah. Setelah aku pastikan bahwa ia memang benar-benar kesulitan mengenakan sepatu itu, aku pun beranjak untuk membantunya.
“Begini sayang, talinya dibuka dulu, baru kaki Gio bisa masuk,” kataku padanya seraya membukakan tali sepatu Gio. Ia hanya diam dan memperhatikan jari-jari tanganku yang mulai menarik-narik tali sepatunya.
“Nah, sekarang masukkan kakinya ..., pelan-pelan ....”
“Te ..., te ..., te ...,” ucap Gio sambil menarik sepatunya, dan ..., “Horre ..., Gio bisa ...!” Aku berteriak sambil bertepuk tangan.
Sinar kegembiraan terpancar di wajah Gio. Sepertinya ia merasa senang saat kakinya berhasil masuk ke dalam sepatu. Tidak lama kemudian ia menarik tanganku dan mengarahkan ke sepatu yang sudah dikenakannya itu. Aku paham maksudnya. Ia memintaku untuk mengikat tali sepatu tersebut.
Setelah kegiatan mengenakan sepatu selesai, yang keseluruhannya menghabiskan waktu lima belas menit, kami beranjak ke halaman depan rumah Gio. Segala aktivitas yang dilakukan Gio selalu kami catat untuk bahan evaluasi bersama teman-teman di lembaga pendidikan kami. Sekecil apapun yang dilakukan semuanya harus dicatat, sehingga tingkat kemajuan si anak dapat diketahui.
“Tangkap bolanya Gio, hup ...,” teriakku pada Gio.
Tidak ada respons. Bahkan Gio membiarkan saja bola itu mengenai wajahnya. Aku berlari kecil untuk mengambil bola yang dibiarkan terjatuh di hadapannya.
“Gio ... lihat bu Nia. Tangkap bolanya sayang ..., hup,” ucapku lagi sambil kulihat reaksi apa yang ia berikan. Sungguh diluar dugaan, bola yang tadinya dibiarkan mengenai wajahnya, kini sudah dalam dekapannya.
“Gio pintar ..., ayo lempar lagi sayang ..., ke sini ...!”
Ia nampak kebingungan. Bola tidak kunjung lepas dari dekapannya. Bahkan Gio semakin erat memeluk bola itu sambil tersenyum kepadaku. Apa arti senyuman Gio itu? Jujur aku tidak mengerti. Yang jelas aku hanya merasakan bahwa ia merasa senang setelah berhasil menangkap bola tersebut.
“Gio ..., lempar bolanya...!” Kali ini aku berucap setengah berteriak. Ia mulai sedikit mengendurkan dekapannya pada bola, dan kemudian melepas bola itu, tetapi ..., “Dug ...!”
Betapa terkejutnya aku, karena tiba-tiba bola itu ia lempar dengan keras mengenai tong sampah yang memang cukup dekat dengan tempat kami bermain bola.
“Ha... ha ... ha ... ha ... ha ...,” Gio tertawa lepas.
Aku benar-benar dibuatnya kaget. Tapi terpancar sinar kebahagiaan dalam diriku karena Gio bisa menikmati kegiatan yang sedang kami lakukan. Raut wajah kanak-kanaknya sungguh lucu saat ia tertawa. Tidak nampak sedikit pun bahwa ia bukan seperti anak-anak pada umumnya. Gio memiliki kekurangan.
Pagi beranjak siang dan matahari mulai menyengat tubuh. Bulir-bulir keringat pun mulai keluar membasahi kening, pelipis, dan leher Gio. Segera kuakhiri kegiatan bermain bola. Aku ajak Gio mencuci tangan dan bolanya dengan sabun. Sekali lagi aku mencoba mengajarkan padanya untuk selalu menjaga kebersihan diri dan benda-benda yang ia gunakan setelah bermain di luar rumah.
Kegiatan belum selesai. Setelah beristirahat sebentar, aku ajak Gio duduk manis di belakang meja belajarnya. Ia menurut dan kelihatan cukup memahami bahwa saat itu waktunya ia belajar.
“Gio, sekarang duduk yang manis, ambil pensilmu, lalu kerjakan ini,” kataku padanya.
Gio paham terhadap instruksi yang diberikan. Dengan cepat ia mengambil pensil dan penghapusnya. Sesaat kemudian Gio terlihat menulis dengan perlahan. Memang untuk saat ini ia baru belajar menebali huruf dan angka, tetapi aku yakin dengan bimbingan dan pengarahan serta latihan yang terus-menerus, Gio akan mandiri dalam menulis huruf dan angka.
Yah ..., semuanya memang membutuhkan proses. Dan, sudah tentu, itu memerlukan waktu lama sekali. Tapi, biar pun lama jika berhasil terntunya menjadi kepuasan tersendiri bagiku. Setidaknya aku mampu membuat Gio mengerti dan paham terhadap huruf dan angka.
Gio menikmati segala bentuk aktivitasnya pada hari itu, sampai akhirnya ia memegang pergelangan tanganku dan mengoyang-goyangkannya. Dari mulut kecilnya keluar kata-kata pendek yang sama.
”Te ..., te ..., te ... te ...,” ucapnya sambil menunjuk mulutnya. Aku mulai paham, ternyata ia lapar dan ingin segera makan.
Aku lihat jam dinding, ternyata memang waktunya Gio makan siang. Tapi hari itu benar-benar hari yang menyenangkan, sehingga sedikit pun aku tidak merasa lelah, karena Gio sangat kooperatif dalam segala kegiatan.
“Gio ..., Gio ..., seandainya setiap hari kamu seperti ini, tentu kamu akan cepat menguasai semua materi yang kuajarkan,” gumamku. Dan kegiatan hari itu pun berakhir.
* * *
Pada suatu kesempatan mengikuti kegiatan belajar, Gio terlihat lemas dan kurang bersemangat. Ada apa, pikirku. Ia duduk diam di kursinya dan tidak mau melakukan aktivitas apapun. Yang ia lakukan hanyalah melihat-lihat pensil dan memainkan pensil itu di depan wajahnya yang nampak kemerahan.
Aku memperhatikan gerak-gerik Gio tanpa sedikit pun mengganggunya. Sekalian aku observasi untuk memastikan penyebab sikapnya yang aneh pada hari itu.
“Eh ... eh ..., ti ... ti ... dor ...,” ucapnya kemudian sambil membaringkan kepalanya di atas meja belajar.
“Apa, Gio mau tidur? Lho kok tidur ..., sekarang waktunya belajar. Ayo belajar dulu,” kataku sambil memegang kepala Gio dan berusaha untuk menegakkannya lagi.
Gio menurut, tapi kemudian ia beranjak menuju sofa pada ruang tamu. Tanpa ada instruksi, Gio berbaring di sofa tersebut. Badannya terlihat sangat lemas. Sakitkah ia?
Perlahan aku hampiri dan duduk di samping tubuh mungilnya yang tengah berbaring. Aku usap rambutnya. Tidak ada reaksi apapun dari Gio, hanya lirikan kecil dari matanya yang nampak sayu.
“Gio sakit? Kok diam saja ..., kenapa sayang?” Tanyaku kemudian. Tetap saja Gio tidak bereaksi.
“Oh Tuhan, kenapa lagi Gio hari ini ..., semoga ia tidak kenapa-napa.”
Ku ajak bermain pun ia tidak mau. Akhirnya aku hanya bisa duduk dan mencoba bercerita dengan alat peraga yang kubawa. Aku dongengkan padanya tentang aneka binatang dan jenis makanannya. Gio tetap diam, tapi memperhatikanku bercerita. Aku terus bercerita dan memutuskan untuk mengisi kegiatan belajar hari itu dengan aneka cerita tanpa kegiatan menulis dan berhitung. Setidaknya Gio dapat mengenal beberapa jenis binatang yang ada dalam dongengku tadi.
* * *
“Bu, besok Gio tidak belajar dulu ya, karena kami harus berangkat ke Singapura, Tks.,” demikian isi pesan singkat (SMS) dari orangtua Gio yang aku terima malam itu.
Aku berpikir cukup lama. Ada apa ini? Apakah ada hubungannya dengan kondisi Gio kemarin? Berbagai macam pertanyaan berkecamuk di benakku.
“Ah, semoga saja Gio tidak kenapa-napa. Ya, semoga saja,” demikian aku berusaha menghilangkan rasa khawatir dalam diriku.
Satu minggu telah berlalu. Aku tidak tahu bagaimana keadaan Gio, sebab tidak ada kabar dari orangtuanya dan ponselnya pun sulit dihubungi. Tanpa kabar dan kehadiran Gio, hari-hari terasa berjalan sangat lambat. Akhirnya untuk mengisi waktu dan mengusir rasa gelisahku, karena banyak jam-jam kosong yang semestinya dijadwalkan untuk mengajar Gio, aku coba mencari informasi tentang penyakit yang diderita Gio lewat internet. Banyak informasi yang aku dapat dari media internet ini yang dapat menambah pengetahuanku tentang penyakit Gio.
Selang sehari kemudian, penantianku berakhir. Orangtua Gio memberi kabar bahwa Gio besok akan pulang dan lusa dapat mengikuti kegiatan belajar lagi. Informasi dari orangtua Gio ini benar-benar membuat hatiku lega. Terus terang aku merasa bahagia mendengar berita tentang kepulangan Gio, setidaknya Gio dalam keadaan baik-baik saja.
Entahlah, mengapa aku begitu bahagia mendengar berita tentang keadaan Gio. Ya, seakan aku mendapatkan kembali sesuatu yang hilang. Memang Gio menjadi semangat tersendiri dalam hidupku. Setidaknya aku merasa menjadi manusia yang berarti tidak hanya buat diri sendiri, melainkan juga buat orang lain, yaitu Gio. Aku kembali bersemangat dan segera aku menyiapkan bahan-bahan ajar yang diperlukan untuk kegiatan belajar Gio esok harinya.
* * *
Malam berlalu begitu cepat dan pagi pun datang menghampiri. Udara pagi hari itu terasa sangat segar, mungkin karena semalam turun hujan. Setelah mandi dan makan pagi, aku kembali memeriksa alat-alat peraga yang akan kubawa untuk kegiatan homeschooling Gio. Aku tak mau ada yang tertinggal, karena hal itu akan mengganggu tugas-tugasku nanti. Dengan hati gembira aku berangkat menuju rumah Gio.
“Bagaimana reaksi Gio nanti ya, mengingat sudah seminggu kami tidak bertemu,” pertanyaan itu mengusik pikiranku.
Terus terang aku sedikit khawatir jika Gio akan menolakku karena lama tidak bertemu. Karena sikap seperti inilah yang sering ditunjukkan oleh anak-anak seperti Gio. Mereka akan memulainya dari awal lagi jika aktivitas yang sudah berlangsung secara rutin dihentikan beberapa saat. Anak-anak autistik selalu terpancang dengan aturan baku, dan jika aturan tersebut diubah sedikit saja mereka akan meresponsnya dengan berulah macam-macam, yang biasa disebut tantrum karena perasaan tidak nyaman dalam diri mereka. “Tapi mudah-mudahan saja Gio tidak mengalami keadaan seperti itu,” harapku.
“Pagi ... Gio ... , aduh kok tambah gendut ya?” Sapaku pada Gio yang sudah duduk manis di sofa ruang tamunya.
Seperti biasa ia hanya diam saja, tak ada senyuman atau kata sapaan. Tatapan matanya sesaat mengarah padaku saat aku menyapanya. Perlahan aku mendekat menghampirinya.
“Gio ..., selamat pagi,” sapaku lagi sambil kupegang dagunya supaya ia mau menatap kedua mataku.
“Ta ... gi ...,” jawabnya kemudian.
“Gio mau belajar ...? Atau bermain ...?” Tanyaku sambil menyodorkan padanya buku dan balok-balok edukatif supaya ia dapat memilih sendiri kegiatan yang diinginkan. Lama aku menunggu ia menentukan pilihannya.
“Gio ..., mau yang ini atau itu,” tanyaku lagi sambil menggerakkan buku di tangan kiriku dan mainan di tangan kananku. Kembali aku menunggu respon Gio.
“Te ... te ...” Tangannya mulai bergerak untuk menentukan pilihannya.
Gio memilih untuk belajar daripada bermain. Syukurlah pada akhirnya Gio dapat menentukan pilihan belajar yang sebenarnya juga aku harapkan. Dan yang lebih menyenangkan lagi, ketakutanku kalau-kalau Gio lupa pada diriku tidak terjadi. Gio bahkan sangat pintar hari itu. Segala bentuk materi akademik ia selesaikan dengan cepat sampai-sampai aku kehabisan materi ajar. Karenanya kuputuskan mengulang lagi soal-soal yang sudah dikerjakan oleh Gio.
Selang beberapa saat, mama Gio datang menghampiri kami yang sedang asyik bermain puzzle angka. Ia tersenyum pada kami berdua sambil memperhatikan putra semata wayangnya itu beraktivitas.
“Maaf bu, nanti bisa saya minta waktu sebentar setelah Gio selesai belajar?” Kata mama Gio padaku.
“Oh ya bu, bisa,” jawabku kemudian.
Dalam hati aku berpikir, apakah ini ada kaitannya dengan kepergian Gio kemarin yang mendadak? Karena tidak biasanya orangtua Gio seserius itu mengajakku berbicara. Waktu berlalu, dan akhirnya aku pun terlibat pembicaraan serius dengan mama Gio.
“Maaf bu, ada apa kok nampaknya ada yang serius? Ada yang bisa saya bantu?” Tanyaku pada mama Gio setelah kami duduk berhadapan.
Mama Gio menghela nafas panjang. “Wah, ternyata masalahnya memang sangat serius,” pikirku.
“Begini bu Nia. Kemarin waktu kami mendadak ke Singapura, kami memang memeriksakan kesehatan Gio. Karena kami lihat Gio nampak sangat lemah badannya dan kurang bersemangat. Menurut hasil pemeriksaan, Gio harus menjalani operasi lagi untuk mengganti kapilernya. Inilah bu yang saya dan papanya sedang pikirkan. Terus terang kami sangat khawatir jika Gio harus menjalani operasi lagi. Karena dari pengalaman yang sudah-sudah, setiap selesai operasi kami harus mengeluarkan biaya ekstra untuk terapi pemulihannya. Biaya pemulihan ini lebih mahal dari biaya operasinya. Dan itu bisa berlangsung tiga sampai empat bulan. Gimana ya bu?”
Raut wajah mama Gio nampak kuyu. Kedua matanya pun berkaca-kaca menahan beban yang sangat berat ini. Aku prihatin melihatnya. Bagaimana tidak, Gio anak mereka satu-satunya, dan jika mempertimbangkan soal usia, mama Gio tidak mungkin bisa mengandung lagi.
“Ibu harus sabar ya. Kita hanya bisa berdoa semoga yang ditakutkan tidak terjadi. Kenapa saya berkata demikian, karena kita harus berpikir positif siapa tahu dengan bertambahnya usia Gio, kondisi fisiknya akan lebih baik pasca operasi dan tidak memerlukan waktu lama untuk terapi pemulihan,” kataku sedikit menghiburnya.
Dalam hati kecilku ada perasaan was-was juga. Tapi aku yakin bahwa akan ada suatu keajaiban yang datang pada diri Gio. Pembicaraan kami pun semakin larut, terkadang diiringi tangisan kecil mama Gio saat ia bercerita. Aku terdiam dan menjadi pendengar yang baik. Ternyata mama Gio butuh seseorang yang mau mendengar dan menjadi teman berkeluh-kesah tentang kisahnya memiliki anak berkebutuhan khusus seperti Gio. Tanpa terasa pembicaraan kami berlangsung lebih dari dua jam. Aku pun berpamit pulang karena harus mengajar lagi di tempat lain.
“Saya turut prihatin bu, tapi ingat, kita tidak boleh putus asa. Gio anak yang pintar. Dengan dukungan kita, saya yakin Gio dapat mandiri. Tapi maaf ya bu, saya mohon pamit, karena harus mengajar lagi di tempat lain. Nanti kita sambung pembicaraan ini pada kesempatan lain.”
“Oh ya, bu Nia, terima kasih sudah memberi masukan pada saya dan mudah-mudahan saya semakin kuat menjalani semua ini.” Pembicaraan pun berakhir.
* * *
Malamnya aku benar-benar tidak bisa tidur. Terngiang di telinga cerita yang disampaikan oleh mama Gio. “Oh Tuhan, tolong beri yang terbaik buat Gio. Ia anak yang lucu. Jangan beri ia dan keluarganya cobaan yang berat.” Hanya itu yang bisa kupanjatkan dalam doa.
Aku bisa merasakan bagaimana beratnya beban kedua orangtua Gio menghadapi semua ini. Tapi itulah kehendak Tuhan yang harus mereka terima dan jalani.
Anak-anak seperti Gio adalah anak-anak yang mengalami cedera otak permanen. Justru dengan adanya anak-anak seperti ini, yang sekarang semakin banyak jumlahnya, masyarakat mestinya mulai menyadari pentingnya pola hidup yang sehat. Pola hidup sehat hendaknya dimulai dari lingkungan keluarga dan makanan yang dikonsumsi.
Sebagian masyarakat memang berpendapat bahwa penyakit seperti diderita oleh Gio adalah penyakit keturunan. Pendapat seperti tidak benar, apalagi jika dihubungkan dengan dunia mistis atau pesugihan. Sungguh sangat disayangkan jika masih ada pendapat seperti itu di zaman modern seperti sekarang ini.
* * *
Hari terus berlalu seiring kemajuan yang dicapai oleh Gio, seperti ia mulai bisa menggunakan toilet dengan baik, berjalan dengan keseimbangan badan yang lebih bagus, melompat dan mengenakan sepatu sendiri meski belum maksimal. Tapi setidaknya program yang kubuat dalam Individual Educational Plan and Program sedikit demi sedikit berhasil dicapai oleh Gio.
Tapi aku belum bisa berkata puas dengan semuanya itu. Aku masih mempunyai obsesi dan waktu yang cukup untuk membantu Gio menjadi sosok yang mandiri. Aku tetap bersemangat dan pantang berputus asa dalam mendidiknya. Sosok Gio memang berbeda dengan murid-murid kami yang lain. Dibalik kekurangan dan kelemahan dirinya, aku yakin ada keajaiban yang bakal datang seiring keajaiban-keajaiban yang sudah mulai nampak melalui perkembangan Gio yang semakin bertambah baik.
Terus terang aku turut merasa cemas seperti yang dirasakan kedua orangtua Gio saat ia harus menjalani operasi kedua yang telah dijadwalkan. Pagi ini aku jadi kurang bersemangat untuk beraktivitas. Pikiranku tertuju pada Gio, akankah operasinya berjalan lancar hari ini?
Kucoba menghilangkan kecemasan itu dengan mengerjakan beberapa lembar laporan yang memang belum sempat kukerjakan. Mencoba bersikap tenang meski hati terus berdebar-debar menunggu kabar dari mama Gio. Waktu jam di dinding menunjuk pukul tiga sore, tapi belum ada kabar dari mama Gio, perasaanku semakin cemas.
Aku mencek ponselku, siapa tau mama Gio telah mengirim kabar lewat SMS, ternyata tidak ada. Atau mungkin lewat email-ku? Kenapa tidak aku lihat juga. Segera aku nyalakan komputer untuk mencek email masuk. Ya Tuhan, kenapa tidak terpikir dari tadi. Ternyata benar, mama Gio mengirim kabar ke alamat email-ku.
“Bu, operasinya berjalan lancar, hanya saja sampai saat ini Gio belum sadarkan diri. Ini sudah tiga jam. Mohon bantuan doanya ya bu agar Gio tidak kenapa-napa. Dokternya bilang kalau operasi kali ini memang ada sedikit berisiko, tapi kalau tidak dilakukan keselamatan Gio juga berbahaya. Bantu doa ya bu.”
Aku tercengang membaca email tersebut. “Kenapa jadi begini?” Ternyata kabar sudah dikirimkan sejam yang lalu. Belum lepas dari rasa terkejut, tiba-tiba ada email masuk lagi. Segera aku buka, ... dari MAMA GIO.
“Bu, sampai saat ini Gio belum sadarkan diri. Ini sudah empat jam bu. Sekarang papanya sedang berbicara dengan dokter yang menangani Gio, menanyakan hal ini. Karena waktu operasi yang dulu tidak seperti ini bu. Satu jam setelah selesai operasi, Gio sudah sadar.”
“Saya terus berdoa untuk keselamatan Gio bu. Ibu bersabar ya, Tuhan pasti punya rencana lain dengan kejadian ini.” Kubalas email mama Gio.
“Ya bu, terima kasih. Nanti saya sambung lagi. Sekarang saya mau menemani Gio dulu.”
Terus terang, setelah menerima email mama Gio, aku terduduk lesu. Tiba-tiba aku membayangkan tingkah lucu Gio selama ini. Meskipun sesekali tidak merespons, tapi Gio anak yang pintar. Terbayang juga tertawanya, sikap jailnya yang terkadang membuat aku sedikit jengkel.
Sekarang semuanya sudah berjalan lebih baik. Gio bukan lagi anak lemah, karena ia telah menjadi anak remaja yang enerjik. Usianya telah menginjak 14 tahun. Walaupun demikian, Gio tetaplah Gio yang berbeda dengan anak-anak normal pada umumnya. Tuhan telah menunjukkan kuasanya dengan memberi kehidupan yang lebih baik pada Gio setelah menjalani operasi tersebut.