<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7436858231137669508</id><updated>2012-01-29T14:49:57.790-08:00</updated><category term='musim gugur'/><title type='text'>HOMESCHOOLING "IMANUEL" SURABAYA</title><subtitle type='html'>Alternatif Pendidikan Bagi Anak-anak: Berkebutuhan khusus (Autis,ADHD,Down Syndrome, dsb). 

Menerima siswa sekitar kota Surabaya,          



             Contact Person:
IBU IMELDA (0881 9450 299)
Jam Kerja</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://wwwimanuelhomeschooling.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7436858231137669508/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wwwimanuelhomeschooling.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>imanuel homeschooling</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_eYV7Yz0dsLI/S8mBmuFyjfI/AAAAAAAAAAc/tjQ57s8ehxU/S220/Picture+001.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>14</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7436858231137669508.post-1183703061112072592</id><published>2012-01-28T17:14:00.000-08:00</published><updated>2012-01-29T14:49:58.192-08:00</updated><title type='text'>PENDAFTARAN SISWA BARU</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;b&gt;Imanuel Homeschooling Surabaya menerima pendaftaran murid baru untuk tahun pelajaran 2012-2013.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;Pendidikan Usia Dini (2- 5 tahun)&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;*ABA&lt;br /&gt;*Life skill&lt;br /&gt;*Terapi Okupasi, Brain Gym&lt;br /&gt;*Mengenal huruf, angka, menulis, mewarna, berhitung, dan membaca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;Pendidikan Setingkat Sekolah Dasar&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;*Terapi Okupasi, Brain Gym&lt;br /&gt;*Life skill&lt;br /&gt;*Pengembangan materi akademik sesuai kurikulum (KTSP)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;Kelas khusus&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;*Terapi Okupasi, Brain Gym&lt;br /&gt;*Art &lt;br /&gt;*Menjahit&lt;br /&gt;*Melukis&lt;br /&gt;*Membatik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujian:&lt;br /&gt;1. Paket A &lt;br /&gt;2. Lokal tes&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat:&lt;br /&gt;1. Mengisi formulir pendaftaran (setelah dilakukan observasi pada calon siswa)&lt;br /&gt;2. Menyerahkan foto 3 x 4 = 4&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; 4 x 6 = 2 &lt;br /&gt;3. Menyerahkan fotokopi rapor terakhir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contact person:&amp;nbsp;&amp;nbsp; IMANUEL HOMESCHOOLING SURABAYA&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 0881 9450 299 / 031 9196 9597&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7436858231137669508-1183703061112072592?l=wwwimanuelhomeschooling.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7436858231137669508/posts/default/1183703061112072592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7436858231137669508/posts/default/1183703061112072592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wwwimanuelhomeschooling.blogspot.com/2012/01/pendaftaran-siswa-baru.html' title='PENDAFTARAN SISWA BARU'/><author><name>imanuel homeschooling</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_eYV7Yz0dsLI/S8mBmuFyjfI/AAAAAAAAAAc/tjQ57s8ehxU/S220/Picture+001.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7436858231137669508.post-2757364504334846465</id><published>2011-07-31T18:22:00.000-07:00</published><updated>2011-09-15T05:29:21.248-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;b&gt;Imelda C. Herawati&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;&lt;b&gt;MEREKA BUTUH KITA&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Kumpulan kisah menakjubkan tentang Anak-anak&lt;br /&gt;Berkebutuhan Khusus dan proses belajar mereka)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kisah Pertama&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usianya 8 tahun saat ia diperkenalkan kepadaku. Pada dasarnya ia anak yang tertib dan penurut, meskipun sikap manisnya itu hanya mampu ditunjukkan untuk waktu sesaat, tidak lebih dari dua menit. Selanjutnya ia lebih banyak tenggelam dalam dunianya sendiri, berlarian ke sana ke mari tanpa mudah dimengerti apa maksudnya.&lt;br /&gt;Kemampuan verbalnya sangat terbatas dan sulit dimengerti. Yang sering keluar dari mulut mungilnya hanyalah kata-kata: &lt;i&gt;ti ... ti ..., te... te ..., eh ... eh ....&lt;/i&gt;, sehingga awalnya aku mengalami kesulitan untuk memahami maksud dari kata-katanya itu. &lt;br /&gt;Tetapi sesungguhnya ia anak yang pintar. Lewat bahasa tubuhnya ia berupaya menyampaikan maksud ucapan singkatnya itu, sehingga akhirnya aku bisa mengerti apa yang diinginkan. &lt;br /&gt;Bocah manis itu bernama Gio. Lengkapnya, Giovani Hendra Gunawan. Menurut diagnosa medis, Gio menderita gangguan pada perkembangan pervasif otak. Tepatnya Gio mengidap &lt;i&gt;hidrosiphalus&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;autistik&lt;/i&gt;. Beruntung kedua orangtuanya cukup tanggap terhadap kondisi yang dialami sang anak, sehingga Gio segera mendapatkan pertolongan medis, meskipun hal itu harus dilakukan di Singapura. &lt;br /&gt;Setelah berobat di salah satu rumah sakit di Singapura, penderitaan Gio sedikit berkurang dengan penyakit &lt;i&gt;hidrosiphalus&lt;/i&gt;-nya. Dokter-dokter yang menanganinya berhasil mengeluarkan cairan yang bersarang di otak lewat operasi pemasangan slang plastik yang ditanamkan dalam tubuh dan dikeluarkan lewat saluran seni. Dengan kemajuan teknologi, apapun bisa dilakukan asalkan kita mempunyai dana cukup untuk mendapatkan semua itu.&lt;br /&gt;Dengan kondisi Gio seperti itu, kedua orangtuanya bersepakat untuk tidak mempunyai anak lagi. Mereka ingin memberikan seluruh perhatian dan hidup mereka untuk anak semata wayangnya itu. Pendidikan, perawatan dan makanan selalu mereka prioritaskan demi penyembuhan dan kebaikan anak mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Gio ... Gi... o, ambil bolanya sayang,”&lt;/i&gt; begitu aku coba menyampaikan instruksi agar ia mau mengambil bola dalam genggaman tanganku. Tapi tidak sedikit pun reaksi aku dapatkan darinya. Jangankan bereaksi, melihat pun tidak.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Gio ... ambil bolanya!”&lt;/i&gt; Kuulangi lagi instruksi tersebut. Tapi kali ini tatapan matanya saja yang aku terima tanpa upaya Gio mengambil bola dari tanganku.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Gi ... o ..., bo ... la ..., am ... bil,”&lt;/i&gt; ucapku lebih keras. Kali ini dengan penekanan suku kata demi suku kata. Dengan ragu-ragu ia mulai berjalan ke arahku, dan... &lt;i&gt;“Ya ..., Gio pintar ...!”&lt;/i&gt; Teriakku pada akhirnya. &lt;br /&gt;Sekalipun aku berucap dengan suara cukup keras, disertai kata-kata sanjungan kepadanya, Gio tetap saja tidak menunjukkan ekspresi apapun. Tatapannya dingin, sedingin salju.&lt;br /&gt;“Ya Tuhan, kenapa Engkau lahirkan ke dunia anak-anak seperti ini? Mereka tidak bersalah, tetapi mereka harus menderita dalam menjalani hari-hari kehidupan mereka yang panjang.” &lt;br /&gt;Namun, setelah aku renungkan secara mendalam, aku medapatkan jawaban bahwa dibalik semua cobaan yang diberikan oleh Tuhan itu tentunya ada hikmah yang dapat dipetik oleh para orang tua mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari demi hari berlalu, tidak terasa hampir sebulan Gio mengikuti program belajar pada lembaga pendidikan yang aku dirikan untuk anak-anak berkebutuhan khusus seperti Gio. Program belajar yang kami berikan adalah &lt;i&gt;Homeschooling&lt;/i&gt;, yaitu kegiatan belajar-mengajar plus terapi yang dilakukan di rumah. Meskipun baru berlangsung satu bulan, tingkat hiperaktif Gio mulai berkurang. Ia sudah mau mengikuti instruksi-instruksi, seperti instruksi untuk duduk manis saat mengikuti kegiatan belajar. &lt;br /&gt;Aku pun merasakan adanya perubahan itu. Aku kini sudah tidak lagi berlarian ke sana ke mari untuk menangkap tubuh kecilnya dan merayunya untuk duduk manis di kursi. Senyum bahagia tersungging di bibirku manakala melihat kemajuan yang dialami oleh Gio. &lt;br /&gt;Kuakui bahwa ada perasaan puas, bangga dan bahagia melihat kemajuan perilaku Gio. Tetapi aku menyadari bahwa aku tak boleh cepat puas dan terlalu percaya diri, sebab perjalanan membantu Gio menjadi anak yang mandiri dan berguna belum selesai. Anggap saja ini baru tahap awal dari program kemandirian yang aku siapkan untuk Gio.&lt;br /&gt;Meskipun didiaknosa mengidap &lt;i&gt;hidrosiphalus&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;autistik&lt;/i&gt;, yang kata orang sulit disembuhkan, apalagi dididik dan menyerap materi ajar, tetapi aku tetap optimis dan bersemangat menjadikan Gio pribadi yang mandiri dan berguna. Setidaknya ia bisa merawat dirinya sendiri bila dewasa kelak.&lt;br /&gt;Kebetulan pada pagi yang cerah di bulan Februari 2008, jadwal Gio adalah melakukan aktivitas bermain bola. Awalnya ia nampak bersemangat saat melihat aku membawa bola warna kuning kesukaannya. Tanpa menunggu instruksi, Gio bergegas mencari sepatu dan kaos kakinya. Meskipun belum sempurna, Gio terus berusaha mengenakan sendiri kaos kaki tersebut.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Te ..., te ..., te ..., te ....“&lt;/i&gt; ucapnya memanggilku. Aku yang duduk di sampingnya segera melihat ke arahnya.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Ada apa? Ayo dicoba dulu, jangan menyerah. Gio bisa,”&lt;/i&gt; kataku padanya. &lt;br /&gt;Gio terus berusaha memasukkan kakinya ke dalam sepatu. Lucu juga saat kuperhatikan raut wajahnya yang mulai memerah. Setelah aku pastikan bahwa ia memang benar-benar kesulitan mengenakan sepatu itu, aku pun beranjak untuk membantunya.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Begini sayang, talinya dibuka dulu, baru kaki Gio bisa masuk,”&lt;/i&gt; kataku padanya seraya membukakan tali sepatu Gio. Ia hanya diam dan memperhatikan jari-jari tanganku yang mulai menarik-narik tali sepatunya.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Nah, sekarang masukkan kakinya ..., pelan-pelan ....”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Te ..., te ..., te ...,”&lt;/i&gt; ucap Gio sambil menarik sepatunya, dan ..., &lt;i&gt;“Horre ..., Gio bisa ...!”&lt;/i&gt; Aku berteriak sambil bertepuk tangan.&lt;br /&gt;Sinar kegembiraan terpancar di wajah Gio. Sepertinya ia merasa senang saat kakinya berhasil masuk ke dalam sepatu. Tidak lama kemudian ia menarik tanganku dan mengarahkan ke sepatu yang sudah dikenakannya itu. Aku paham maksudnya. Ia memintaku untuk mengikat tali sepatu tersebut. &lt;br /&gt;Setelah kegiatan mengenakan sepatu selesai, yang keseluruhannya menghabiskan waktu lima belas menit, kami beranjak ke halaman depan rumah Gio. Segala aktivitas yang dilakukan Gio selalu kami catat untuk bahan evaluasi bersama teman-teman di lembaga pendidikan kami. Sekecil apapun yang dilakukan semuanya harus dicatat, sehingga tingkat kemajuan si anak dapat diketahui.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Tangkap bolanya Gio, hup ...,”&lt;/i&gt; teriakku pada Gio.&lt;br /&gt;Tidak ada respons. Bahkan Gio membiarkan saja bola itu mengenai wajahnya. Aku berlari kecil untuk mengambil bola yang dibiarkan terjatuh di hadapannya.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Gio ... lihat bu Nia. Tangkap bolanya sayang ..., hup,”&lt;/i&gt; ucapku lagi sambil kulihat reaksi apa yang ia berikan. Sungguh diluar dugaan, bola yang tadinya dibiarkan mengenai wajahnya, kini sudah dalam dekapannya.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Gio pintar ..., ayo lempar lagi sayang ..., ke sini ...!”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Ia nampak kebingungan. Bola tidak kunjung lepas dari dekapannya. Bahkan Gio semakin erat memeluk bola itu sambil tersenyum kepadaku. Apa arti senyuman Gio itu? Jujur aku tidak mengerti. Yang jelas aku hanya merasakan bahwa ia merasa senang setelah berhasil menangkap bola tersebut.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Gio ..., lempar bolanya...!”&lt;/i&gt; Kali ini aku berucap setengah berteriak. Ia mulai sedikit mengendurkan dekapannya pada bola, dan kemudian melepas bola itu, tetapi ..., &lt;i&gt;“Dug ...!”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Betapa terkejutnya aku, karena tiba-tiba bola itu ia lempar dengan keras mengenai tong sampah yang memang cukup dekat dengan tempat kami bermain bola.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Ha... ha ... ha ... ha ... ha ...,”&lt;/i&gt; Gio tertawa lepas.&lt;br /&gt;Aku benar-benar dibuatnya kaget. Tapi terpancar sinar kebahagiaan dalam diriku karena Gio bisa menikmati kegiatan yang sedang kami lakukan. Raut wajah kanak-kanaknya sungguh lucu saat ia tertawa. Tidak nampak sedikit pun bahwa ia bukan seperti anak-anak pada umumnya. Gio memiliki kekurangan.&lt;br /&gt;Pagi beranjak siang dan matahari mulai menyengat tubuh. Bulir-bulir keringat pun mulai keluar membasahi kening, pelipis, dan leher Gio. Segera kuakhiri kegiatan bermain bola. Aku ajak Gio mencuci tangan dan bolanya dengan sabun. Sekali lagi aku mencoba mengajarkan padanya untuk selalu menjaga kebersihan diri dan benda-benda yang ia gunakan setelah bermain di luar rumah.&lt;br /&gt;Kegiatan belum selesai. Setelah beristirahat sebentar, aku ajak Gio duduk manis di belakang meja belajarnya. Ia menurut dan kelihatan cukup memahami bahwa saat itu waktunya ia belajar.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Gio, sekarang duduk yang manis, ambil pensilmu, lalu kerjakan ini,”&lt;/i&gt; kataku padanya. &lt;br /&gt;Gio paham terhadap instruksi yang diberikan. Dengan cepat ia mengambil pensil dan penghapusnya. Sesaat kemudian Gio terlihat menulis dengan perlahan. Memang untuk saat ini ia baru belajar menebali huruf dan angka, tetapi aku yakin dengan bimbingan dan pengarahan serta latihan yang terus-menerus, Gio akan mandiri dalam menulis huruf dan angka.&lt;br /&gt;Yah ..., semuanya memang membutuhkan proses. Dan, sudah tentu, itu memerlukan waktu lama sekali. Tapi, biar pun lama jika berhasil terntunya menjadi kepuasan tersendiri bagiku. Setidaknya aku mampu membuat Gio mengerti dan paham terhadap huruf dan angka.&lt;br /&gt;Gio menikmati segala bentuk aktivitasnya pada hari itu, sampai akhirnya ia memegang pergelangan tanganku dan mengoyang-goyangkannya. Dari mulut kecilnya keluar kata-kata pendek yang sama.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;”Te ..., te ..., te ... te ...,”&lt;/i&gt; ucapnya sambil menunjuk mulutnya. Aku mulai paham, ternyata ia lapar dan ingin segera makan.&lt;br /&gt;Aku lihat jam dinding, ternyata memang waktunya Gio makan siang. Tapi hari itu benar-benar hari yang menyenangkan, sehingga sedikit pun aku tidak merasa lelah, karena Gio sangat kooperatif dalam segala kegiatan.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Gio ..., Gio ..., seandainya setiap hari kamu seperti ini, tentu kamu akan cepat menguasai semua materi yang kuajarkan,”&lt;/i&gt; gumamku. Dan kegiatan hari itu pun berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu kesempatan mengikuti kegiatan belajar, Gio terlihat lemas dan kurang bersemangat. Ada apa, pikirku. Ia duduk diam di kursinya dan tidak mau melakukan aktivitas apapun. Yang ia lakukan hanyalah melihat-lihat pensil dan memainkan pensil itu di depan wajahnya yang nampak kemerahan.&lt;br /&gt;Aku memperhatikan gerak-gerik Gio tanpa sedikit pun mengganggunya.  Sekalian aku observasi untuk memastikan penyebab sikapnya yang aneh pada hari itu. &lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Eh ... eh ..., ti ... ti ... dor ...,”&lt;/i&gt; ucapnya kemudian sambil membaringkan kepalanya di atas meja belajar.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Apa, Gio mau tidur? Lho kok tidur ..., sekarang waktunya belajar. Ayo belajar dulu,”&lt;/i&gt; kataku sambil memegang kepala Gio dan berusaha untuk menegakkannya lagi. &lt;br /&gt;Gio menurut, tapi kemudian ia beranjak menuju sofa pada ruang tamu. Tanpa ada instruksi, Gio berbaring di sofa tersebut. Badannya terlihat sangat lemas. Sakitkah ia? &lt;br /&gt;Perlahan aku hampiri dan duduk di samping tubuh mungilnya yang tengah berbaring. Aku usap rambutnya. Tidak ada reaksi apapun dari Gio, hanya lirikan kecil dari matanya yang nampak sayu. &lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Gio sakit? Kok diam saja ..., kenapa sayang?”&lt;/i&gt; Tanyaku kemudian. Tetap saja Gio tidak bereaksi.&lt;br /&gt;“Oh Tuhan, kenapa lagi Gio hari ini ..., semoga ia tidak kenapa-napa.” &lt;br /&gt;Ku ajak bermain pun ia tidak mau. Akhirnya aku hanya bisa duduk dan mencoba bercerita dengan alat peraga yang kubawa. Aku dongengkan padanya tentang aneka binatang dan jenis makanannya. Gio tetap diam, tapi memperhatikanku bercerita. Aku terus bercerita dan memutuskan untuk mengisi kegiatan belajar hari itu dengan aneka cerita tanpa kegiatan menulis dan berhitung. Setidaknya Gio dapat mengenal beberapa jenis binatang yang ada dalam dongengku tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Bu, besok Gio tidak belajar dulu ya, karena  kami harus berangkat ke Singapura, Tks.,”&lt;/i&gt; demikian isi pesan singkat (SMS) dari orangtua Gio yang aku terima malam itu. &lt;br /&gt;Aku berpikir cukup lama. Ada apa ini? Apakah ada hubungannya dengan kondisi Gio kemarin? Berbagai macam pertanyaan berkecamuk di benakku. &lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Ah, semoga saja Gio tidak kenapa-napa. Ya, semoga saja,”&lt;/i&gt; demikian aku berusaha menghilangkan rasa khawatir dalam diriku.&lt;br /&gt;Satu minggu telah berlalu. Aku tidak tahu bagaimana keadaan Gio, sebab tidak ada kabar dari orangtuanya dan ponselnya pun sulit dihubungi. Tanpa kabar dan kehadiran Gio, hari-hari terasa berjalan sangat lambat. Akhirnya untuk mengisi waktu dan mengusir rasa gelisahku, karena banyak jam-jam kosong yang semestinya dijadwalkan untuk mengajar Gio, aku coba mencari informasi tentang penyakit yang diderita Gio lewat internet. Banyak informasi yang aku dapat dari media internet ini yang dapat menambah pengetahuanku tentang penyakit Gio. &lt;br /&gt;Selang sehari kemudian, penantianku berakhir. Orangtua Gio memberi kabar bahwa Gio besok akan pulang dan lusa dapat mengikuti kegiatan belajar lagi. Informasi dari orangtua Gio ini benar-benar membuat hatiku lega. Terus terang aku merasa bahagia mendengar berita tentang kepulangan Gio, setidaknya Gio dalam keadaan baik-baik saja.&lt;br /&gt;Entahlah, mengapa aku begitu bahagia mendengar berita tentang keadaan Gio. Ya, seakan aku mendapatkan kembali sesuatu yang hilang. Memang Gio menjadi semangat tersendiri dalam hidupku. Setidaknya aku merasa menjadi manusia yang berarti tidak hanya buat diri sendiri, melainkan juga buat orang lain, yaitu Gio. Aku kembali bersemangat dan segera aku menyiapkan bahan-bahan ajar yang diperlukan untuk kegiatan belajar Gio esok harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam berlalu begitu cepat dan pagi pun datang menghampiri. Udara pagi hari itu terasa sangat segar, mungkin karena semalam turun hujan. Setelah mandi dan makan pagi, aku kembali memeriksa alat-alat peraga yang akan kubawa untuk kegiatan homeschooling Gio. Aku tak mau ada yang tertinggal, karena hal itu akan mengganggu tugas-tugasku nanti. Dengan hati gembira aku berangkat menuju rumah Gio.&lt;br /&gt;“Bagaimana reaksi Gio nanti ya, mengingat sudah seminggu kami tidak bertemu,” pertanyaan itu mengusik pikiranku.&lt;br /&gt;Terus terang aku sedikit khawatir jika Gio akan menolakku karena lama tidak bertemu. Karena sikap seperti inilah yang sering ditunjukkan oleh anak-anak seperti Gio. Mereka akan memulainya dari awal lagi jika aktivitas yang sudah berlangsung secara rutin dihentikan beberapa saat. Anak-anak &lt;i&gt;autistik&lt;/i&gt; selalu terpancang dengan aturan baku, dan jika aturan tersebut diubah sedikit saja mereka akan meresponsnya dengan berulah macam-macam, yang biasa disebut tantrum karena perasaan tidak nyaman dalam diri mereka. “Tapi mudah-mudahan saja Gio tidak mengalami keadaan seperti itu,” harapku. &lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Pagi ... Gio ... , aduh kok tambah gendut ya?”&lt;/i&gt; Sapaku pada Gio yang sudah duduk manis di sofa ruang tamunya. &lt;br /&gt;Seperti biasa ia hanya diam saja, tak ada senyuman atau kata sapaan. Tatapan matanya sesaat mengarah padaku saat aku menyapanya. Perlahan aku mendekat menghampirinya.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Gio ..., selamat pagi,”&lt;/i&gt; sapaku lagi sambil kupegang dagunya supaya ia mau menatap kedua mataku.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Ta ... gi ...,”&lt;/i&gt; jawabnya kemudian.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Gio mau belajar ...? Atau bermain ...?”&lt;/i&gt; Tanyaku sambil menyodorkan padanya buku dan balok-balok edukatif supaya ia dapat memilih sendiri kegiatan yang diinginkan. Lama aku menunggu ia menentukan pilihannya.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Gio ..., mau yang ini atau itu,” &lt;/i&gt;tanyaku lagi sambil menggerakkan buku di tangan kiriku dan mainan di tangan kananku. Kembali aku menunggu respon Gio.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Te ... te ...”&lt;/i&gt; Tangannya mulai bergerak untuk menentukan pilihannya. &lt;br /&gt;Gio memilih untuk belajar daripada bermain. Syukurlah pada akhirnya Gio dapat menentukan pilihan belajar yang sebenarnya juga aku harapkan. Dan yang lebih menyenangkan lagi, ketakutanku kalau-kalau Gio lupa pada diriku tidak terjadi. Gio bahkan sangat pintar hari itu. Segala bentuk materi akademik ia selesaikan dengan cepat sampai-sampai aku kehabisan materi ajar. Karenanya kuputuskan mengulang lagi soal-soal yang sudah dikerjakan oleh Gio.&lt;br /&gt;Selang beberapa saat, mama Gio datang menghampiri kami yang sedang asyik bermain puzzle angka. Ia tersenyum pada kami berdua sambil memperhatikan putra  semata wayangnya itu beraktivitas.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Maaf bu, nanti bisa saya minta waktu sebentar setelah Gio selesai belajar?”&lt;/i&gt; Kata mama Gio padaku.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Oh ya bu, bisa,”&lt;/i&gt; jawabku kemudian. &lt;br /&gt;Dalam hati aku berpikir, apakah ini ada kaitannya dengan kepergian Gio kemarin yang mendadak? Karena tidak biasanya orangtua Gio seserius itu mengajakku berbicara. Waktu berlalu, dan akhirnya aku pun terlibat pembicaraan serius dengan mama Gio.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Maaf bu, ada apa kok nampaknya ada yang serius? Ada yang bisa saya bantu?”&lt;/i&gt; Tanyaku pada mama Gio setelah kami duduk berhadapan. &lt;br /&gt;Mama Gio menghela nafas panjang. “Wah, ternyata masalahnya memang sangat serius,” pikirku.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Begini bu Nia. Kemarin waktu kami mendadak ke Singapura, kami memang memeriksakan kesehatan Gio. Karena kami lihat Gio nampak sangat lemah badannya dan kurang bersemangat. Menurut hasil pemeriksaan, Gio harus menjalani operasi lagi untuk mengganti kapilernya. Inilah bu yang saya dan papanya sedang pikirkan. Terus terang kami sangat khawatir jika Gio harus menjalani operasi lagi. Karena dari pengalaman yang sudah-sudah, setiap selesai operasi kami harus mengeluarkan biaya ekstra untuk terapi pemulihannya. Biaya pemulihan ini lebih mahal dari biaya operasinya. Dan itu bisa berlangsung tiga sampai empat bulan. Gimana ya bu?”&lt;/i&gt;        &lt;br /&gt;Raut wajah mama Gio nampak kuyu. Kedua matanya pun berkaca-kaca menahan beban yang sangat berat ini. Aku prihatin melihatnya. Bagaimana tidak, Gio anak mereka satu-satunya, dan jika mempertimbangkan soal usia, mama Gio tidak mungkin bisa mengandung lagi.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Ibu harus sabar ya. Kita hanya bisa berdoa semoga yang ditakutkan tidak terjadi. Kenapa saya berkata demikian, karena kita harus berpikir positif siapa tahu dengan bertambahnya usia Gio, kondisi fisiknya akan lebih baik pasca operasi dan tidak memerlukan waktu lama untuk terapi pemulihan,”&lt;/i&gt; kataku sedikit menghiburnya. &lt;br /&gt;Dalam hati kecilku ada perasaan was-was juga. Tapi aku yakin bahwa akan ada suatu keajaiban yang datang pada diri Gio. Pembicaraan kami pun semakin larut, terkadang diiringi tangisan kecil mama Gio saat ia bercerita. Aku terdiam dan menjadi pendengar yang baik. Ternyata mama Gio butuh seseorang yang mau mendengar dan menjadi teman berkeluh-kesah tentang kisahnya memiliki anak berkebutuhan khusus seperti Gio. Tanpa terasa pembicaraan kami berlangsung lebih dari dua jam. Aku pun berpamit pulang karena harus mengajar lagi di tempat lain.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Saya turut prihatin bu, tapi ingat, kita tidak boleh putus asa. Gio anak yang pintar. Dengan dukungan kita, saya yakin Gio dapat mandiri. Tapi maaf ya bu, saya mohon pamit, karena harus mengajar lagi di tempat lain. Nanti kita sambung pembicaraan ini pada kesempatan lain.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Oh ya, bu Nia, terima kasih sudah memberi masukan pada saya dan mudah-mudahan saya semakin kuat menjalani semua ini.”&lt;/i&gt; Pembicaraan pun berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malamnya aku benar-benar tidak bisa tidur. Terngiang di telinga cerita yang disampaikan oleh mama Gio. “Oh Tuhan, tolong beri yang terbaik buat Gio. Ia anak yang lucu. Jangan beri ia dan keluarganya cobaan yang berat.” Hanya itu yang bisa kupanjatkan dalam doa.&lt;br /&gt;Aku bisa merasakan bagaimana beratnya beban kedua orangtua Gio menghadapi semua ini. Tapi itulah kehendak Tuhan yang harus mereka terima dan jalani.  &lt;br /&gt;Anak-anak seperti Gio adalah anak-anak yang mengalami cedera otak permanen. Justru dengan adanya anak-anak seperti ini, yang sekarang semakin banyak jumlahnya, masyarakat mestinya mulai menyadari pentingnya pola hidup yang sehat. Pola hidup sehat hendaknya dimulai dari lingkungan keluarga dan makanan yang dikonsumsi. &lt;br /&gt;Sebagian masyarakat memang berpendapat bahwa penyakit seperti diderita oleh Gio adalah penyakit keturunan. Pendapat seperti tidak benar, apalagi jika dihubungkan dengan dunia mistis atau pesugihan. Sungguh sangat disayangkan jika masih ada pendapat seperti itu di zaman modern seperti sekarang ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari terus berlalu seiring kemajuan yang dicapai oleh Gio, seperti ia mulai bisa menggunakan toilet dengan baik, berjalan dengan keseimbangan badan yang lebih bagus, melompat dan mengenakan sepatu sendiri meski belum maksimal. Tapi setidaknya program yang kubuat dalam &lt;i&gt;Individual Educational Plan and Program&lt;/i&gt; sedikit demi sedikit berhasil dicapai oleh Gio.&lt;br /&gt;Tapi aku belum bisa berkata puas dengan semuanya itu. Aku masih mempunyai obsesi dan waktu yang cukup untuk membantu Gio menjadi sosok yang mandiri. Aku tetap bersemangat dan pantang berputus asa dalam mendidiknya. Sosok Gio memang berbeda dengan murid-murid kami yang lain. Dibalik kekurangan dan kelemahan dirinya, aku yakin ada keajaiban yang bakal datang seiring keajaiban-keajaiban yang sudah mulai nampak melalui perkembangan Gio yang semakin bertambah baik.&lt;br /&gt;Terus terang aku turut merasa cemas seperti yang dirasakan kedua orangtua Gio saat ia harus menjalani operasi kedua yang telah dijadwalkan. Pagi ini aku jadi kurang bersemangat untuk beraktivitas. Pikiranku tertuju pada Gio, akankah operasinya berjalan lancar hari ini? &lt;br /&gt;Kucoba menghilangkan kecemasan itu dengan mengerjakan beberapa lembar laporan yang memang belum sempat kukerjakan. Mencoba bersikap tenang meski hati terus berdebar-debar menunggu kabar dari mama Gio. Waktu jam di dinding menunjuk pukul tiga sore, tapi belum ada kabar dari mama Gio, perasaanku semakin cemas.&lt;br /&gt;Aku mencek ponselku, siapa tau mama Gio telah mengirim kabar lewat SMS, ternyata tidak ada. Atau mungkin lewat email-ku? Kenapa tidak aku lihat juga. Segera aku nyalakan komputer untuk mencek email masuk. Ya Tuhan, kenapa tidak terpikir dari tadi. Ternyata benar, mama Gio mengirim kabar ke alamat email-ku.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Bu, operasinya berjalan lancar, hanya saja sampai saat ini Gio belum sadarkan diri. Ini sudah tiga jam. Mohon bantuan doanya ya bu agar Gio tidak kenapa-napa. Dokternya bilang kalau operasi kali ini memang ada sedikit berisiko, tapi kalau tidak dilakukan keselamatan Gio juga berbahaya. Bantu doa ya bu.” &lt;br /&gt;&lt;/i&gt;        &lt;br /&gt;Aku tercengang membaca email tersebut. &lt;i&gt;“Kenapa jadi begini?”&lt;/i&gt; Ternyata kabar sudah dikirimkan sejam yang lalu. Belum lepas dari rasa terkejut, tiba-tiba ada email masuk lagi. Segera aku buka, ... dari MAMA GIO.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Bu, sampai saat ini Gio belum sadarkan diri. Ini sudah empat jam bu. Sekarang papanya sedang berbicara dengan dokter yang menangani Gio, menanyakan hal ini. Karena waktu operasi yang dulu tidak seperti ini bu. Satu jam setelah selesai operasi, Gio sudah sadar.”&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Saya terus berdoa untuk keselamatan Gio bu. Ibu bersabar ya, Tuhan pasti punya rencana lain dengan kejadian ini.”&lt;/i&gt; Kubalas email mama Gio.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Ya bu, terima kasih. Nanti saya sambung lagi. Sekarang saya mau menemani Gio dulu.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Terus terang, setelah menerima email mama Gio, aku terduduk lesu. Tiba-tiba aku membayangkan tingkah lucu Gio selama ini. Meskipun sesekali tidak merespons, tapi Gio anak yang pintar. Terbayang juga tertawanya, sikap jailnya yang terkadang membuat aku sedikit jengkel. &lt;br /&gt;Sekarang semuanya sudah berjalan lebih baik. Gio bukan lagi anak lemah, karena ia telah menjadi anak remaja yang enerjik. Usianya telah menginjak 14 tahun. Walaupun demikian, Gio tetaplah Gio yang berbeda dengan anak-anak normal pada umumnya. Tuhan telah menunjukkan kuasanya dengan memberi kehidupan yang lebih baik pada Gio setelah menjalani operasi tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7436858231137669508-2757364504334846465?l=wwwimanuelhomeschooling.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7436858231137669508/posts/default/2757364504334846465'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7436858231137669508/posts/default/2757364504334846465'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wwwimanuelhomeschooling.blogspot.com/2011/07/imelda-c.html' title=''/><author><name>imanuel homeschooling</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_eYV7Yz0dsLI/S8mBmuFyjfI/AAAAAAAAAAc/tjQ57s8ehxU/S220/Picture+001.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7436858231137669508.post-5087016655233603021</id><published>2010-10-14T16:35:00.000-07:00</published><updated>2011-08-16T16:32:03.949-07:00</updated><title type='text'>"COOKING CLASS" PENGEMBANGAN POTENSI BAKAT MINAT ANAK DIDIK</title><content type='html'>Pendidikan bagi anak-anak "Special Needs" bukan hanya sekedar akademik dan perilaku, melainkan juga pengembangan bakat dan minat anak. Untuk itulah Imanuel Homeschooling memberikan waktu khusus untuk pengembangan bakat dan minat anak. Memang di antara anak-anak didik mempunyai bakat dan minat yang berbeda. Karena itulah Team Pengajarnya pun pilihan. Mereka tidak hanya mampu mengajar dan mendidik dalam hal akademik, melainkan juga mempunyai keahlian sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Salah satunya adalah "memasak".&lt;br /&gt;Bagi anak didik yang mempunyai bakat dan minat memasak, tentu mereka akan dibekali dan dibimbing untuk lebih mengenal dan memahami tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan bakat dan minat mereka. Dengan praktek langsung di rumah sendiri tentu akan memudahkan dalam mengajarkan meteri. Tentu saja diharapkan kerjasama dengan pihak keluarga agar materi yang diajarkan tidak berhenti di situ saja, tetapi dapat juga dipaktekkan setiap hari. Misalnya saja, mengajak mereka aktif memotong, menggoreng, membersihkan peralatan memasak setelah digunakan.&lt;br /&gt;Dengan begitu, segala sesuatu yang pernah diajarkan pada mereka akan selalu mereka ingat dan dapat dikerjakan oleh mereka sendiri tanpa bantuan orang lain. Karena yang diharapkan adalah mereka dapat mengurus dirinya sendiri dan berguna bagi orang lain yang ada di sekitar mereka. Terlebih jika mereka dapat membanggakan ayah,ibu dan keluarganya.&lt;br /&gt;Dalam kegiatan "Cooking Class", anak banyak diajarkan mengenal berbagai macam bumbu masakan, bahan-bahan kue dan peralatan memasak yang dibutuhkan. Anak juga dilatih untuk semakin jeli dalam membaca dan menimbang bahan-bahan yang akan digunakan. Di sini anak secara tidak langsung sudah belajar matematika, berhitung dan membaca.&lt;br /&gt;Kegiatan ini dalam sebulan dilakukan sebanyak dua sampai tiga kali. Agar anak tidak bosan, kita ajak mereka membuat masakan sesuai dengan keinginan mereka, misalnya membuat "puding". Karena mereka adalah anak-anak "special needs" yang harus "diet" maka bahan makanan yang digunakan pun harus aman dikonsumsi oleh mereka.&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-CXlnFPIjfKA/Tkr80l_TcFI/AAAAAAAAACU/BI5-ef1EYwc/s1600/PIC_0344.JPG" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-CXlnFPIjfKA/Tkr80l_TcFI/AAAAAAAAACU/BI5-ef1EYwc/s320/PIC_0344.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7436858231137669508-5087016655233603021?l=wwwimanuelhomeschooling.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7436858231137669508/posts/default/5087016655233603021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7436858231137669508/posts/default/5087016655233603021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wwwimanuelhomeschooling.blogspot.com/2010/10/cooking-class-pengembangan-potensi.html' title='&quot;COOKING CLASS&quot; PENGEMBANGAN POTENSI BAKAT MINAT ANAK DIDIK'/><author><name>imanuel homeschooling</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_eYV7Yz0dsLI/S8mBmuFyjfI/AAAAAAAAAAc/tjQ57s8ehxU/S220/Picture+001.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-CXlnFPIjfKA/Tkr80l_TcFI/AAAAAAAAACU/BI5-ef1EYwc/s72-c/PIC_0344.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7436858231137669508.post-5159241178259771213</id><published>2010-04-17T02:42:00.000-07:00</published><updated>2010-04-17T03:05:22.355-07:00</updated><title type='text'>Sosialisasi Di Imanuel Homeschooling</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_eYV7Yz0dsLI/S8mHx-3HCnI/AAAAAAAAAA8/kGdzucYDKb8/s1600/Picture+001.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 256px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_eYV7Yz0dsLI/S8mHx-3HCnI/AAAAAAAAAA8/kGdzucYDKb8/s320/Picture+001.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5461045315920923250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;   Imanuel Homeschooling merupakan salah satu alternatif pendidikan yang diperuntukkan untuk anak-anak berkebutuhan khusus (Autis, ADHD, Down Sindrome,dsb). Dimana para orang tua mempercayakan pendidikan anak-anak mereka bukan hanya dalam pendidikan akademik saja melainkan lebih mengutamakan live skill.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Akademik memang penting akan tetapi dengan kapasitas daya tangkap mereka yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya menyebabkan para praktisi HS berkeyakinan bahwa bukan hal itu yang perlu di kedepankan melainkan bagaimana ABK itu dapat mengurus dirinya sendiri baik sekarang dan dimasa yang akan datang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;   Demikian juga dengan pendidikan yang di utamakan dalam Homeschooling ini. Belum lama ini tepatnya pada bulan Januari 2010, Komunitas Imamnuel Homeschooling mengadakan program sosialisasi. Dalam program ini beberapa murid berkunjung ke rumah salah satu praktisi dan melakukan kegiatan belajar bersama. Tujuan dari kegiatan ini adalah supaya mereka sebagai sesama anggota Imanuel Homeschooling dapat saling mengenal satu sama lain dan mereka dapat bersosialisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Dengan diadakannya kegiatan ini, para tutor yang mendampingi dapat melihat keunggulan dari masing-masing peserta didik dimana dari talenta yang muncul itulah kita dapat menentukan arah pendidikan yang tepat untuk mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun masih dibilang baru Imanuel Homeschooling sudah mendapatkan respon yang cukup bagus dari masyarakat. Karena itu untuk program sosialisasi akan menjadi program rutin setiap semesternya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7436858231137669508-5159241178259771213?l=wwwimanuelhomeschooling.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7436858231137669508/posts/default/5159241178259771213'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7436858231137669508/posts/default/5159241178259771213'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wwwimanuelhomeschooling.blogspot.com/2010/04/sosialisasi-di-imanuel-homeschooling.html' title='Sosialisasi Di Imanuel Homeschooling'/><author><name>imanuel homeschooling</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_eYV7Yz0dsLI/S8mBmuFyjfI/AAAAAAAAAAc/tjQ57s8ehxU/S220/Picture+001.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_eYV7Yz0dsLI/S8mHx-3HCnI/AAAAAAAAAA8/kGdzucYDKb8/s72-c/Picture+001.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7436858231137669508.post-5895695021744583368</id><published>2009-12-25T15:20:00.000-08:00</published><updated>2009-12-25T16:37:32.741-08:00</updated><title type='text'>PENDIDIKAN DI IMANUEL HOMESCHOOLING SURABAYA</title><content type='html'>Sekolah merupakan bentuk pendidikan yang diselenggarakan di luar rumah. Lalu bagaimana dengan pendidikan anak berkebutuhan khusus yang harus menjalani pendidikan di rumah(Homeschooling)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan rumah(Homeschooling) merupakan pendidikan alternatif bagi anak-anak berkebutuhan khusus dimana mereka tidak dapat mengikuti pendidikan secara reguler. Namun demikian, materi pendidikan (kurikulum) yang diberikan kepada mereka tetap sama dengan anak-anak normal pada sekolah-sekolah reguler pada umumnya.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;      Memang benar, anak berkebutuhan khusus memerlukan pendidikan yang sama dengan anak-anak normal pada umumnya. Dengan adanya program pendidikan Homeschooling ini, diharapkan anak-anak berkebutuhan khusus dapat memperoleh pendidikan yang lebih maksimal lagi. Memang semuanya tidak dapat berubah seketika, sebab segala sesuatunya membutuhkan proses dan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Banyak orang tua yang berpengharapan bahwa anaknya segera dapat menjadi baik jika mengikuti program pendidikan Homeschooling. Jika guru/pendidik telah memberikan yang terbaik bagi sang anak, lalu bagaimana dengan perananan keluarga anak berkebutuhan khusus tersebut untuk menunjang keberhasilan program Homeschooling bagi anak mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Dalam program Homeschooling, guru bukanlah faktor penentu utama bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Guru hanya membantu proses pendidikan anak-anak tersebut, sementara peran keluargalah yang paling penting dalam pendidikan anak-anak seperti mereka. Mengapa? Karena waktu yang dibutuhkan seorang guru maksimal hanyalah 3-4 jam per hati, sedangkan waktu terbanyak dihabiskan oleh sang anak bersama keluarga. Jadi di sini terlihat peran penting keluarga dalam menunjang keberhasilan pendidikan sang anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Jika anak mengalami kemajuan sedikit, baik dalam hal akademik maupun perilaku, banyak orang tua menganggap hal itu belum suatu kemajuan. Sekecil apapun tingkat kemajuan anak-anak berkebutuhan khusus harus kita syukuri. Karena mereka pun sebenarnya sudah berusaha mengubah diri mereka menjadi lebih maju. Misalnya saja: dulunya mereka belum mengenal angka dan huruf, kini mereka mulai dapat mengenal angka dan huruf meskipun belum maksimal; atau yang dulunya sang anak sangat sulit merespons kehadiran orang lain, kini anak mulai dapat menunjukkan penolakan terhadap orang yang tidak dia sukai. Hal ini menunjukkan perbaikan perilaku. Meskipun sedikit tetapi ini merupakan hal yang sangat positif. Inilah yang terkadang dilupakan oleh orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Belum lagi masalah makanan yang dikonsumsi oleh anak-anak berkebutuhan khusus.&lt;br /&gt;Terkadang orang tua merasa kasihan jika anak dilarang makan ini atau makan itu, sehingga mereka membiarkan saja anak-anaknya mengkonsumsi makanan yang seharusnya tidak boleh dimakan. Peran orang tua sangat penting disini. Jika orang tua menginginkan hal yang terbaik bagi pertumbuhan dan kemajuan sang anak, jangan melanggar segala bentuk pantangan yang harus dihindari. Sedini mungkin kita harus menjaga. Mengapa? Karena dengan kita memberi makanan yang harus dihindari itu pada sang anak sama artinya kita memberikan racun kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Karena itulah pendidikan di Imanuel Homeschooling selalu menekankan pentingnya komunikasi dengan orang tua mengenai pendidikan dan hal-hal yang penting guna menunjang kemajuan perkembangan peserta didik. Meski terkadang para orang tua sulit menerima masukan dari para guru, akan tetapi komunitas Imanuel Homeschooling selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk anak didik maupun orang tua, sehingga apa yang menjadi target pendidikan bagi sang anak dapat tercapai.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7436858231137669508-5895695021744583368?l=wwwimanuelhomeschooling.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7436858231137669508/posts/default/5895695021744583368'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7436858231137669508/posts/default/5895695021744583368'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wwwimanuelhomeschooling.blogspot.com/2009/12/pendidikan-di-imanuel-homeschooling.html' title='PENDIDIKAN DI IMANUEL HOMESCHOOLING SURABAYA'/><author><name>imanuel homeschooling</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_eYV7Yz0dsLI/S8mBmuFyjfI/AAAAAAAAAAc/tjQ57s8ehxU/S220/Picture+001.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7436858231137669508.post-3721047490121071813</id><published>2009-11-19T15:02:00.000-08:00</published><updated>2009-11-19T15:11:16.086-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musim gugur'/><title type='text'>TERAPI MAKANAN BAGI ANAK AUTIS</title><content type='html'>Dalam berbagai aspek, anak autis memiliki batasan-batasan untuk membantu diri mereka lebih terkontrol dengan baik. Batasan – batasan yang diberikan  bukan hanya dalam hal bermain, beraktivitas, tetapi juga dalam hal makanan. Aspek pengaturan pola makan sedemikian penting bagi anak autis karena suplai makanan merupakan bahan dasar pembentuk neurotransmitter.&lt;br /&gt;Disamping itu sebagian besar anak autis mengalami reaksi alargi dan intoleransi terhadap makanan dengan kadar gizi tinggi.Mekanisme pencernaan anak autis yang tidak sempurna dipengaruhi oleh kondisi flora usus yang tidak seimbang. Berikut adalah spesifikasi diat bagi anak autisma:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1. Bahan makanan yang mengandung gluten yang biasanya terdapat dalam gandum,   &lt;br /&gt;   tepung terigu, maizena, oat.&lt;br /&gt;2. Bahan makanan yang mengandung kasein, biasanya terdapat dalan susu hewan, es &lt;br /&gt;   krim, yoghurt, margarine&lt;br /&gt;3. Bahan makanan yang mengandung MSG atau penyedap rasa&lt;br /&gt;4. Bahan pemanis dan pewarna buatan seperti yang terdapat [ada permen, saos &lt;br /&gt;   tomat, minuman kemasan&lt;br /&gt;5. Makanan yang diawetkan, sepeti makanan kalangan, sosis, makanan olahan atau &lt;br /&gt;   makanan jadi&lt;br /&gt;6. Makanan siap saji atau fast-food&lt;br /&gt;7. Minuman berkarbonasi atau softdrink&lt;br /&gt;8. Buah-buahan tertentu seperti anggur, pir, lengkeng, pisangm apel, jeruk, &lt;br /&gt;   tomat, almond, cherry, strawberry, melon, mangga yang terlalu manis, ketimun&lt;br /&gt;9. Janis air tertentu, seperti air ledenga, air sumur. Oleh karena itu &lt;br /&gt;   diajurkan anak autis mengkonsumsi air mineral&lt;br /&gt;10.Kurma, jagung, santan, minyak kelapa atau kelapa sawit, abon sapi&lt;br /&gt;11.Gelatin, mayones, mustard, cuka, serbat&lt;br /&gt;12.Ebi, kornet, ham dan sejenisnya&lt;br /&gt;13.Semua jenis gula dan garam kecuali yang direkomendasikan oleh dokter&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanan yang dapat dikonsumsi oleh anak autis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis Karbohidrat&lt;br /&gt;1. Kemtang, ketela, ubi, beras putih, beras merah&lt;br /&gt;2. Tepung sagu, tepung kentang, tepung beras, tepung ketan, tepung tapioka, &lt;br /&gt;   tepung ubi, tepung garut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis Sayuran&lt;br /&gt;1. Brokoli, kembang kol, kalian, segala macam selada, segala macam sawi, &lt;br /&gt;   caisim, bayam, kangkung, kol putih, daun katuk, tauge, asparagus, daun &lt;br /&gt;   pegagan&lt;br /&gt;2. Gambas, segala macam labu, terung, wortel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis kacang-kacangan&lt;br /&gt;1. Kacang panjang, kacang kapri, kacang polong&lt;br /&gt;2. Kacang tanah ( tidak digoreng), kacang mete, kenari&lt;br /&gt;3. Kacang hijau, kacang tolo, kacang hitam, kacang kedelai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Protein hewani&lt;br /&gt;1. Daging sapi&lt;br /&gt;2. Daging ayam kampong, burung dara&lt;br /&gt;3. Ikan air tawar, ikan patin, ikan mujar, ikan lele, belut&lt;br /&gt;4. Telur ayam kampung, telur puyuh, telur bebek&lt;br /&gt;5. Hati ayam , ampela ayam kampong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah-buahan&lt;br /&gt;     Kiwi, semangka, nanas, jambu air, jambu biji,   &lt;br /&gt;     papaya, belimbing, kedondong, bengkuang, &lt;br /&gt;     sirsak, sawo, alpukat&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7436858231137669508-3721047490121071813?l=wwwimanuelhomeschooling.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7436858231137669508/posts/default/3721047490121071813'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7436858231137669508/posts/default/3721047490121071813'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wwwimanuelhomeschooling.blogspot.com/2009/11/terapi-makanan-bagi-anak-autis.html' title='TERAPI MAKANAN BAGI ANAK AUTIS'/><author><name>imanuel homeschooling</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_eYV7Yz0dsLI/S8mBmuFyjfI/AAAAAAAAAAc/tjQ57s8ehxU/S220/Picture+001.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7436858231137669508.post-4147534189669258212</id><published>2009-04-21T06:21:00.000-07:00</published><updated>2009-04-30T00:09:11.738-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="background-;color:#c27ba0;"&gt;&lt;span style="background-;color:#d5a6bd;"&gt;&lt;span style="background-;color:#c27ba0;"&gt;&lt;span style="font-size:x-large;"&gt;&lt;span style="background-;color:magenta;"&gt;&lt;span style="background-;color:#eeeeee;"&gt;&lt;span style="font-size:x-large;"&gt;&lt;span style="background-;color:#fff2cc;"&gt;&lt;span style="background-;color:#cfe2f3;"&gt;&lt;span style="background-;color:#e06666;"&gt;&lt;span style="background-;color:#93c47d;"&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;&lt;span style="font-size:x-large;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Surabaya Booming Autis &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:large;"&gt;&lt;b&gt;Imelda C. Herawati &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;(Guru Autis pada Komunitas Homeschooling “Imanuel”)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Penderita autisma (autis) di kota Surabaya terus meningkat dalam lima tahun terakhir. Peningkatannya bahkan amat fantastis, yaitu lebih dari 100 persen. Berdasarkan kriteria Diagnostic Statistical Manual III-R Organisasi Kesehatan Dunia (DSM III-R WHO), saat ini tidak kurang dari 4.000 penduduk kota Surabaya diidentifikasi menderita autis. Jumlah tersebut jauh lebih banyak dan lebih memprihatinkan dibandingkan jumlah warga kota yang positif terinfeksi oleh virus flu burung.&lt;br /&gt;          Ledakan (booming) penderita autis inilah yang melatari digelarnya sebuah seminar dan workshop bertajuk “Surabaya Peduli Autis 2008” di Empire Palace Surabaya, tanggal 13-14 Desember 2008 mendatang.&lt;br /&gt;          Berbagai pertanyaan muncul di tengah masyarakat sekarang ini tentang autis, yaitu penyakit apakah autis itu? Bagaimanakah cara penanganannya dan mengapa persebarannya begitu cepat akhir-akhir ini?&lt;br /&gt;         Austis sebenarnya bukanlah penyakit jiwa, melainkan sejenis penyakit yang disebabkan oleh gangguan pada perkembangan pervasif otak. Autis diyakini diderita bayi sejak mereka dalam kandungan, tetapi paling awal baru bisa terdeteksi ketika bayi berumur 3-12 bulan. Meski bukan penyakit jiwa, sering orang memperlakukan penderita autis seperti penderita penyakit jiwa.&lt;br /&gt;          Dalam lima tahun terakhir, penderita autis, khususnya di kota-kota besar, seperti Jakarta dan Surabaya, meningkat lebih dari dua kali lipat. Penelitian epidemiologi dengan menggunakan kriteria DSM III-R dari WHO menunjukkan 10 dari 10.000 bayi yang dilahirkan berpotensi menderita autis. Padahal, sebelum tahun 2000, perbandingannya adalah  5:10.000.&lt;br /&gt;          Para ahli neurologi (saraf) bahkan mengatakan, peningkatan jumlah penderita autis sudah mencapai titik yang sangat kritis, dan merupakan ancaman bagi penduduk perkotaan yang tidak kalah seriusnya dibandingkan dengan wabah flu burung.&lt;br /&gt;          Di kota metropolis seperti Surabaya, indikator peningkatan jumlah penderita autis, antara lain, dapat dilihat dari makin banyaknya sekolah-sekolah autis, atau lebih tepatnya sekolah untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), yang didirikan dalam rentang waktu lima tahun terakhir. Jika pada tahun 2003 jumlah sekolah ABK yang ada tidak lebih dari 10 buah sekolah, maka pada tahun 2007 jumlahnya meningkat tiga kali lipat menjadi sekitar 30 sekolah. Jumlah tersebut belum termasuk lembaga-lembaga terapi untuk anak autis yang didirikan di kota Surabaya, Malang, Sidoarjo, Pasuruan, dan Gresik.&lt;br /&gt;          Meski merupakan ancaman serius, sejauh ini belum diketahui secara jelas penyebab seorang bayi terlahir dengan potensi menderita autis. Para ahli hanya menyebut beberapa kemungkinan, antara lain; (1) adanya kelainan pada sistem saraf dalam berbagai derajat berat ringannya penyakit yang disebabkan oleh zat kimia (racun) yang mungkin terbawa dalam makanan yang mereka konsumsi; (2) obat-obatan yang diminum oleh sang ibu selama masa kehamilan, khususnya obat-obatan jenis psikotropika (termasuk narkoba); (3) kekurangan oksigen saat bayi dilahirkan; dan (4) faktor keturunan (kromosom).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendala sosial&lt;br /&gt;          Jumlah penderita autis di kota Surabaya memang belum dapat dihitung secara pasti, karena belum ada lembaga atau instansi yang melakukan pendataan terhadap mereka. Namun berdasarkan kriteria DSM III-R WHO, diperkirakan tidak kurang dari 4.000 penduduk kota metropolis ini positif menderita autis. Jumlah tersebut jauh lebih banyak dan lebih memprihatinkan dibandingkan jumlah warga kota Surabaya yang positif terinfeksi oleh virus flu burung (tidak sampai 10 orang).&lt;br /&gt;          Harus diakui bahwa sangat sulit untuk mengetahui jumlah pasti penderita autis di kota metropolis, seperti Surabaya, karena masyarakat masih mempunyai anggapan keliru dimana autis sering disamakan dengan penyakit jiwa, sehingga mereka merasa malu untuk menyekolahkan anaknya yang menderita autis ke sekolah-sekolah ABK. Kedua, tidak dapat dipungkiri bahwa biaya pendidikan di sekolah-sekolah ABK yang ada saat ini sangatlah mahal, sehingga tidak mungkin terjangkau oleh orangtua para penderita autis yang berasal dari keluarga sederhana, apalagi kurang mampu.&lt;br /&gt;          Karena penyebab autis belum diketahui secara jelas, maka langkah darurat yang dapat dilakukan adalah memberikan pertolongan atau perawatan sedini mungkin kepada para penderita agar mereka bisa hidup normal dan mandiri, serta mampu bersosialisasi secara wajar di tengah lingkungan masyarakatnya. Untuk itu penyediaan pendidikan khusus bagi para penderita autis merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditawar, sebab dalam kasus gangguan perkembangan pervasif, seperti yang diderita anak-anak autis, pendidikan khusus merupakan prioritas utama dalam perawatan, di samping perawatan psikiatrik yang biasa dilakukan oleh lembaga-lembaga terapi.&lt;br /&gt;          Pertanyaannya sekarang, apakah sekolah-sekolah autis atau sekolah untuk ABK yang – dalam lima tahun terakhir ini – banyak bermunculan di kota Surabaya mampu menampung ribuan warga kota yang positif menderita autis? Jawabannya tentu saja, “tidak mampu”, karena kenyataan menunjukkan bahwa setiap sekolah ABK (untuk tingkatan TK dan SD) saat ini rata-rata baru mampu menampung sekitar 30-40 murid, sehingga jumlah 30 sekolah ABK di kota Surabaya hanya mampu menyerap sekitar 900-1.000 murid autis. Dengan demikian, jumlah anak autis yang berkesempatan mengenyam pendidikan tingkat dasar (TK dan SD) baru mencapai 25 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanganan Terpadu&lt;br /&gt;          Tekad mengambil langkah-langkah darurat dalam penanganan ribuan warga kota yang menderita autis itu agaknya akan banyak menghadapi kendala, karena fakta menunjukkan bahwa banyak dari sekolah-sekolah ABK tersebut didirikan bukan dengan misi, kerangka dan konsep dasar sekolah khusus yang memang dibutuhkan oleh anak-anak autis, melainkan sekadar untuk mengantisipasi meningkatnya jumlah para penderita autis yang kebanyakan adalah anak-anak usia produktif sekolah. Jadi, pendirian sekolah-sekolah ABK itu lebih banyak mengedepankan segi pemanfaatan peluang bisnisnya daripada mengutamakan misi, kerangka dan konsep dasar pendirian sekolah tersebut.&lt;br /&gt;          Mengingat semakin meningkatnya jumlah penderita autis di wilayah perkotaan, yang pertambahannya mengikuti deret ukur, maka sudah waktunya Pemerintah Kota Surabaya menempatkan autis sebagai penyakit yang harus diperangi, karena merupakan ancaman serius bagi pertumbuhan anak-anak sebagai generasi penerus bangsa. Untuk itu Pemerintah Kota Surabaya, melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) dan Dinas Pendidikan Nasional (Diknas), sudah waktunya melakukan penanganan terpadu yang bisa memberikan solusi menyeluruh terhadap para penderita autis yang jumlahnya terus meningkat.&lt;br /&gt;          Penanganan terpadu tersebut, antara lain, bisa dilakukan dengan (1) melakukan pendataan secara cermat dan akurat terhadap para warga yang positif menderita autis; (2) melakukan penyuluhan terhadap orangtua para penderita autis yang berasal dari keluarga sederhana atau kurang mampu, yang selama ini masih enggan menyekolahkan anaknya yang menderita autis; (3) mengalokasikan dana untuk pendirian sekolah-sekolah khusus bagi anak-anak autis, atau membantu sekolah-sekolah ABK yang sudah ada agar mereka mau menerima anak-anak autis dari keluarga kurang mampu dengan biaya seringan mungkin. Jadi semacam dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) yang sekarang sudah menjadi kebijakan Diknas untuk membantu sekolah-sekolah dari tingkatan SD/Madrasah Ibtidaiyah dan SMTP/Madrasah Tsanawiyah, serta Sekolah Luar Biasa (SLB).&lt;br /&gt;          Dana BOS untuk sekolah-sekolah ABK tersebut mutlak sangat diperlukan karena biaya operasional pendidikan di sekolah untuk anak-anak penderita autis sangatlah mahal. Sekadar perbandingan, seorang guru sekolah ABK maksimal hanya bisa menangani 3-4 orang murid, sementara untuk sekolah anak-anak normal seorang guru bisa menangani sampai 40 orang murid. Belum lagi biaya untuk penyediaan alat-alat peraga dan alat-alat terapi guna menunjang proses penyerapan materi pelajaran bagi murid-murid dengan kebutuhan khusus seperti anak-anak autis tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Dimuat di Harian SURYA, Jumat, 12 Desember 2008, Menjelang Seminar dan Workshop “Surabaya Peduli Autis 2008”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7436858231137669508-4147534189669258212?l=wwwimanuelhomeschooling.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7436858231137669508/posts/default/4147534189669258212'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7436858231137669508/posts/default/4147534189669258212'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wwwimanuelhomeschooling.blogspot.com/2009/04/surabaya-booming-autis-imelda-c.html' title=''/><author><name>imanuel homeschooling</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_eYV7Yz0dsLI/S8mBmuFyjfI/AAAAAAAAAAc/tjQ57s8ehxU/S220/Picture+001.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7436858231137669508.post-98252391153774325</id><published>2009-04-21T06:17:00.000-07:00</published><updated>2009-04-30T00:16:33.564-07:00</updated><title type='text'>kurikulum</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="background-;color:#f4cccc;"&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;&lt;span style="font-size:x-large;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Kurikulum Pendidikan Kita&lt;br /&gt;Belum Berpihak Pada Anak &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="background-;color:#f4cccc;"&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;&lt;span style="font-size:x-large;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Autis &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:x-large;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:x-large;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;IMELDA C. HERAWATI&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;(Guru Autis pada Komunitas Homeschooling “Imanuel”)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Berbicara mengenai sistem pendidikan nasional tidak dapat dilepaskan dari masalah kurikulum. Sebab kurikulum sebagai salah satu unsur dari sarana pendidikan merupakan faktor yang ikut menentukan kualitas dan keberhasilan suatu usaha pendidikan.&lt;br /&gt;          Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dengan jelas menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.&lt;br /&gt;          Karena pendidikan merupakan usaha yang sadar dan terencana, maka penyelenggaraan pendidikan haruslah bersandar pada pedoman-pedoman tertentu, yang dalam dunia pendidikan dikenal dengan istilah “kurikulum”. Jadi kurikulum pendidikan pada dasarnya adalah pedoman pengajaran yang disusun untuk membantu para pendidik atau guru di dalam menyampaikan materi ajar kepada peserta didik atau murid.&lt;br /&gt;          Di dalam penyelenggaraan pendidikan dasar dan menengah di Indonesia, kita mengenal dua macam pendidikan; yaitu (1): Pendidikan Umum dan (2) Pendidikan Luar Biasa. Pendidikan Umum berhubungan dengan penyelenggaraan pendidikan di Sekolah-Sekolah Umum dan Sekolah Kejuruan; sedang Pendidikan Luar Biasa berhubungan dengan penyelenggaraan pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB), seperti SLB Tunanetra, SLB Tunalaras, SLB Tunadaksa, SLB Tunarungu Wicara, dan lain-lain.&lt;br /&gt;          Pendidikan umum, baik untuk sekolah umum maupun sekolah kejuruan, menggunakan standard kurikulum umum; sedang pendidikan luar biasa menggunakan standard kurikulum khusus, karena peserta didik di SLB mempunyai keterbatasan yang beragam dalam menerima dan menyerap materi ajar.&lt;br /&gt;          Pertanyaannya sekarang, bagaimana halnya dengan pendidikan bagi anak-anak penderita autis, atau anak-anak yang mengalami gangguan pada perkembangan pervasif otak? Kenyataan menunjukkan bahwa anak-anak penderita autis saat ini masih sulit diterima di sekolah-sekolah umum, karena mereka mempunyai multi keterbatasan, yaitu keterbatasan dalam perilaku (biasanya introvert/pendiam, tapi ada pula yang hiperaktif), keterbatasan dalam kemampuan bersosialisasi dengan lingkungan, serta keterbatasan kemampuan kognitif, fisik-motorik, dan bahasa. Meski tak dapat dipungkiri bahwa dalam kasus-kasus tertentu, penderita autis bisa jadi adalah anak-anak dengan kemampuan kognitif yang super atau genius.&lt;br /&gt;          Di pihak lain, anak-anak penderita autis juga tidak mungkin mengikuti pendidikan di SLB, karena kurikulum khusus di SLB sudah tentu hanya sesuai untuk kebutuhan masing-masing SLB. Padahal anak-anak penderita autis umumnya mempunyai kendala yang beragam dan multikompleks. Sehingga kalau mereka disekolahkan pada SLB tertentu, sekolah yang bersangkutan tidak akan sanggup memberikan layanan pendidikan yang dibutuhkan. Dan si anak penderita autis pun tidak akan mampu bersosialisasi dan menyerap materi ajar yang diberikan oleh sekolah-sekolah SLB tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermunculan Sekolah Autis&lt;br /&gt;          Meningkatnya jumlah anak penderita autis di Indonesia, yang pertambahannya cenderung mengikuti deret ukur, sangat memprihatinkan kita semua. Dalam lima tahun terakhir, jumlah anak penderita autis -- khususnya di kota-kota besar, seperti Jakarta dan Surabaya --, meningkat pesat lebih dari dua kali lipat. Penelitian epidemiologi dengan menggunakan kriteria Diagnostic Statistical Manual III-R (DSM III-R) dari Organisasi Kesehatan Dunia/WHO menunjukkan 10 dari 10.000 bayi yang dilahirkan berpotensi menderita autis. Padahal, sebelum tahun 2000 perbandingannya adalah  5:10.000.&lt;br /&gt;          Di kota metropolis seperti Surabaya, indikator peningkatan jumlah anak penderita autis, antara lain, dapat dilihat dari makin banyaknya sekolah-sekolah untuk anak autis yang didirikan dalam rentang waktu sepuluh tahun terakhir. Jika pada tahun 2000 jumlah sekolah untuk anak autis tidak lebih dari 10 buah, maka pada tahun 2009 jumlahnya telah meningkat tiga kali lipat menjadi sekitar 30 buah. Jumlah tersebut belum termasuk lembaga-lembaga terapi untuk anak autis yang didirikan di kota Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Malang, dan Pasuruan.     &lt;br /&gt;          Harus diakui bahwa sangat sulit untuk mengetahui jumlah pasti penderita autis, karena belum ada lembaga atau institusi yang melakukan pendataan terhadap mereka. Selain itu, adanya anggapan keliru dari sebagian masyarakat yang menyamakan autis dengan penyakit jiwa membuat banyak keluarga malu menyekolahkan anaknya yang menderita autis. Apalagi biaya pendidikan pada sekolah-sekolah autis relatif sangat mahal.&lt;br /&gt;          Karena penyebab autis belum diketahui secara pasti, maka langkah awal yang dapat dilakukan adalah memberikan pertolongan secara dini kepada para penderita agar mereka bisa hidup normal dan mandiri, serta mampu bersosialisasi secara wajar di tengah lingkungannya. Untuk itu penyediaan pendidikan khusus, dengan kurikulum khusus untuk anak autis merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditawar, sebab langkah tersebut sangat dibutuhkan oleh mereka, di samping perawatan psikiatrik yang biasa dilakukan oleh lembaga-lembaga terapi.&lt;br /&gt;          Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: apakah sekolah-sekolah autis yang sekarang ini banyak bermunculan di kota-kota besar cukup mampu menampung ribuan anak-anak kita yang positif menderita autis? Dan apakah sekolah-sekolah autis yang tumbuh bak jamur di musim penghujan itu benar-benar telah menerapkan “kurikulum pendidikan” yang tepat untuk anak-anak autis? Jawabannya, tentu saja, “tidak”, karena kenyataan menunjukkan bahwa sekolah-sekolah untuk anak autis (tingkatan TK dan SD) yang ada sekarang rata-rata baru bisa menampung sekitar 30-40 murid.&lt;br /&gt;          Kalau kita asumsikan bahwa di Surabaya saat ini ada sekitar 30 buah sekolah khusus untuk anak-anak autis, sekolah-sekolah tersebut baru bisa menampung sekitar 900-1.200 orang murid. Padahal, kalau kita menggunakan standar atau kriteria DSM III-R dari Organisasi Kesehatan Dunia/WHO, di Surabaya saat ini diperkirakan terdapat sekitar 4.000-5.000 anak yang positif menderita autis.&lt;br /&gt;          Kendala berikutnya adalah masalah kurikulum, karena kurikulum pendidikan yang selama ini berlaku, baik untuk sekolah umum, sekolah kejuruan, maupun sekolah luar biasa, sedikit pun belum berpihak pada kepentingan dan kebutuhan anak-anak penderita autis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurikulum Sekolah Autis&lt;br /&gt;          Berdasarkan pemaparan tersebut di atas, maka sudah waktunya kita mengambil langkah-langkah darurat dalam penanganan ribuan anak-anak kita yang positif menderita autis. Karena mereka adalah anak-anak Indonesia juga, yang mempunyai hak yang sama untuk menerima pendidikan yang layak, namun sampai sekarang belum berkesempatan mendapatkannya karena kurangnya perhatian dari institusi pendidikan kita.&lt;br /&gt;          Oleh karena itu, melalui forum Lomba Penulisan Essay Charles Honoris Center: Wakil Rakyatku, Jangan Hanya Bisa Mendengar, mari kita memperjuangkan nasib ribuan anak-anak penderita autis yang belum berkesempatan mengenyam pendidikan; atau telah mengenyam pendidikan namun tanpa acuan kurikulum pendidikan yang jelas dan benar, sehingga anak-anak penderita autis ini kurang mampu mengembangkan potensi dirinya sebagaimana tujuan yang ingin dicapai dalam Sistem Pendidikan Nasional kita (UU No. 20 Tahun 2003).&lt;br /&gt;          Untuk mencapai tujuan tersebut, maka kita perlu melakukan langkah-langkah awal, sebagai berikut:&lt;br /&gt;Mendata secara cermat dan akurat para warga, khususnya anak-anak dan remaja, yang positif menderita autis;&lt;br /&gt;Memberikan penyuluhan terhadap orangtua para penderita autis yang berasal dari keluarga kurang mampu, yang selama ini masih enggan menyekolahkan anaknya yang menderita autis;&lt;br /&gt;Mengalokasikan dana/anggaran pendidikan untuk pendirian sekolah- sekolah khusus dengan kurikulum khusus untuk anak-anak autis, atau membantu sekolah-sekolah autis yang sudah ada agar mereka mau menerima anak-anak autis dari keluarga kurang mampu dengan biaya seringan mungkin.&lt;br /&gt;Menyiapkan kurikulum khusus yang cocok untuk kepentingan dan kebutuhan anak-anak penderita autis. Kurikulum khusus bagi anak-anak penderita autis bisa berupa penyederhanaan dari kurikulum pendidikan yang berlaku pada sekolah-sekolah umum untuk anak-anak normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           Semoga niat baik dan cita-cita luhur tersebut bisa menjadi kenyataan, bak impian seorang calon wakil rakyat untuk mendapatkan mandat dari rakyat, konstituen pemilih mereka, untuk menuju kursi DPR RI di Senayan, Jakarta. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Ditulis untuk lomba karya penulisan yang diselengarakan oleh salah seorang caleg DPR RI&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7436858231137669508-98252391153774325?l=wwwimanuelhomeschooling.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7436858231137669508/posts/default/98252391153774325'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7436858231137669508/posts/default/98252391153774325'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wwwimanuelhomeschooling.blogspot.com/2009/04/kurikulum.html' title='kurikulum'/><author><name>imanuel homeschooling</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_eYV7Yz0dsLI/S8mBmuFyjfI/AAAAAAAAAAc/tjQ57s8ehxU/S220/Picture+001.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7436858231137669508.post-7324515733533353051</id><published>2009-04-16T03:44:00.000-07:00</published><updated>2009-10-25T20:22:24.736-07:00</updated><title type='text'>PROFIL IMANUEL HOMESCHOOLING</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;              Merupakan salah satu bentuk komunitas yang dibentuk dan didirikan oleh beberapa tenaga pendidik bagi anak berkebutuhan khusus yang merasa tergelitik tentang pentingnya pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang tidak bisa diterima di beberapa sekolah khusus.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Mengapa harus dengan Homeschooling ?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Tim pendidik di Komunitas Imanuel Homeschooling mempunyai pemikiran bahwa homeschooling merupakan salah satu bentuk alternative proses pendidikan yang memberikan peluang seluas-luasnya kepada anak didik untuk mengembangkan diri, memilih akses terbaik terhadap materi pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bentuk alternatif pendidikan seperti ini layak dipertimbangkan. Mengapa? Karena di dalam Homeschooling, interaksi orangtua, guru pendamping dan anak didik lebih intensif. Anak dapat belajar dengan lebih luwes/longgar, serta pengawasan yang lebih efektif mengingat peserta didik di IHS merupakan anak-anak berkebutuhan khusus.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Keunggulan Homeschooling&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Secara umum, Homeschooling memiliki sejumlah keunggulan khas yang tidak didapat dalam institusi pendidikan konvensional. Dengan Homeschooling ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) akan mendapatkan program sebagai berikut:&lt;br /&gt;1.Pengembangan pengenalan diri&lt;br /&gt;2.Pengembangan sensor motorik&lt;br /&gt;3.Pengembangan berbahasa reeptif dan ekspresif&lt;br /&gt;4.Pengembangan motorik kasar dan halus&lt;br /&gt;5.Pengembangan kemampuan mengurus diri&lt;br /&gt;6.Pengembangan emosi dan mental spiritual&lt;br /&gt;7.Mengurangi dan berusaha menghilangkan perilaku yang menyimpang&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Kurikulum dan tenaga pendidik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Kurikulum di Imanuel Homeschooling menggunakan kurikulum Depdiknas sebagai acuan, karena dengan kurikulum Depdiknas anak didik diharapkan dapat mengikuti ujian standardisasi pemerintah bilamana kemampuan akademiknya telah memenuhi standart.&lt;br /&gt;Untuk mencapai semua itu, di dalam Imanuel Homeschooling anak didik akan didampingi oleh &lt;em&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;guru/tutor&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; yang professional dan kompeten terhadap dunia pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Peserta didik di Imanuel Homeschooling&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Siapa sajakah yang dapat bergabung sebagai anak didik di imanuel Homeschooling? Mengingat tujuan dibentuknya maka yang dapat bergabung dengan komunitas ini adalah anak-anak berkebutuhan khusus ( Autisma, Aspenger Sindrome, ADHD, terlambat perkembangan, terlambat bicara dan ABB) yang menginginkan pendidikan secara maksimal baik akademik dan perilaku.&lt;br /&gt;Tetapi HIS tidak menutup kemungkinan bila ada peserta didik yang bukan ABK untuk bergabung.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bila ingin menjadi peserta didik di Komunitas Imanuel Homeschooling dapat menghubungi:&lt;br /&gt;Ibu Imelda&lt;br /&gt;Phone : &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;0881 9450 299&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;Email : &lt;span style="color: rgb(204, 51, 204);"&gt;&lt;strong&gt;homeschoolingi@yahoo.co.id&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7436858231137669508-7324515733533353051?l=wwwimanuelhomeschooling.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7436858231137669508/posts/default/7324515733533353051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7436858231137669508/posts/default/7324515733533353051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wwwimanuelhomeschooling.blogspot.com/2009/04/profil-imanuel-homeschooling.html' title='PROFIL IMANUEL HOMESCHOOLING'/><author><name>imanuel homeschooling</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_eYV7Yz0dsLI/S8mBmuFyjfI/AAAAAAAAAAc/tjQ57s8ehxU/S220/Picture+001.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7436858231137669508.post-8477122442396357832</id><published>2009-04-11T04:32:00.000-07:00</published><updated>2009-04-11T04:35:42.362-07:00</updated><title type='text'>Seksualitas Bagi Autis Remaja</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;SEKSUALITAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada individu autis remaja&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dra. Dyah Puspita  *)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai masyarakat timur, seringkali kita merasa sungkan membicarakan masalah seksualitas. Apalagi pada individu autis, yang memang memerlukan penanganan khusus. Selain sungkan, kebanyakan orang tua juga tidak sanggup menghadapi rangkaian masalah yang harus dihadapi di kemudian hari dan memilih untuk menyimpan masalah itu hingga saat-saat terakhir. Padahal justru peran orang tua di masa kanak anak sangatlah menentukan dalam mempersiapkan anak-anak autis ini menghadapi masa-masa remaja dan masa dewasa mereka. Tanpa persiapan dan penjelasan sebelumnya, anak autis bingung dan cemas menghadapi perubahan fisik dalam diri mereka atau terlanjur menjadi korban penanganan lingkungan yang kurang bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BATASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Individu autis adalah individu yang sudah mendapat diagnosa sebagai memiliki gangguan per-kembangan autisme sebelum usia 3 tahun, dengan manifestasi gangguan komunikasi, gangguan perilaku dan gangguan interaksi. Kadang mereka juga memiliki masalah lain seperti masalah makan, masalah tidur, gangguan sensoris dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa remaja autis, berawal pada usia yang berbeda-beda pada setiap individu. Ada yang sudah mengalami perubahan fisik dan dorongan seksual sejak usia 8 tahun, sementara yang lain terjadi sekitar usia 13-18 tahun. Bahkan ada pula yang hingga awal usia 20-an tidak menunjukkan minat yang berarti. Adams (2000) menyebutkan bahwa diskusi awal mengenai topik ini sudah seharusnya dimulai saat anak berusia 10 tahun, kecuali anak tampak memiliki kebutuhan untuk itu di usia lebih dini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, penelitian menunjukkan bahwa pada individu dengan kebutuhan khusus (special needs individuals) juga terjadi perkembangan yang kurang lebih sama dengan individu yang tidak mengalami gangguan perkembangan. Mereka mengalami perubahan emosional, fisik dan sosial yang hampir sama. Perubahan fisik mereka antara lain: mulai tumbuh rambut di wajah, ketiak dan di daerah kemaluan, terjadi perubahan pertumbuhan rambut di seluruh tubuh, perubahan suara pria, wanita mulai menstruasi. Meski demikian, perubahan emosional bagi anak dengan kebutuhan khusus (termasuk autism) prosesnya cenderung lebih sulit karena minat mereka terhadap lawan jenis sering ditentang oleh lingkungan (Schwier&amp;amp;Hingsburger, 2000) sehingga tidak ada informasi yang jelas. Atau, sebaliknya, mereka justru menarik diri sama sekali dari pergaulan karena tidak mampu menterjemahkan begitu banyak ‘pesan tersirat’ dan aturan sosial yang membingungkan. Temple Grandin dalam salah satu bukunya bahkan menuturkan bahwa ia memutuskan untuk hidup lajang (=celibacy) agar terhindar dari situasi sosial yang begitu rumit dan sulit ia atasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seksualitas adalah integrasi dari perasaan, kebutuhan dan hasrat yang membentuk kepribadian unik seseorang, mengungkapkan kecenderungan seseorang untuk menjadi pria atau wanita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seks, sebaliknya, biasanya hanya didefinisikan sebagai jenis kelamin (pria atau wanita); atau kegiatan atau aktifitas dari hubungan fisik seks itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam makalah ini, seksualitas dibatasi sebagai pikiran, perasaan, sikap dan perilaku seseorang terhadap dirinya sendiri. (Schwier &amp;amp; Hingsburger, 2000).  Dengan demikian, bukan kegiatan hubungan seks yang akan dibahas, tapi bagaimana membantu anak autis memahami seksualitas secara keseluruhan agar ia berkembang sebagai pribadi yang ‘utuh’ dan ‘mandiri’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seksualitas mencakup banyak faktor dan tidak bisa dilihat secara terpisah. Untuk dapat memahami seksualitas, kita harus memahami cinta kasih. Untuk dapat memahami cinta-kasih, kita harus memahami keterikatan (=bonding). Memahami ‘keterikatan’, kita harus memahami arti cinta tanpa pamrih. Dan tentu saja, untuk dapat memahami arti cinta tanpa pamrih, kita harus pernah merasakannya. (Schwier&amp;amp;Hingsburger, 2000). Sayangnya bagi individu dengan kebutuhan khusus ini, seringkali mereka kurang mendapatkan perlakuan penuh kasih dari lingkungan terdekatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan ada penelitian yang menunjukkan bahwa lingkungan lebih tertarik kepada bayi atau balita yang lucu, menggemaskan dan berespons dengan baik; tapi kurang tertarik kepada mereka yang kurang menarik. Apalagi anak autis seringkali kurang mampu berkomunikasi atau berespons sehingga lingkungan berasumsi bahwa anak-anak ini juga tidak paham stimulasi atau percakapan. Lingkungan lalu memutuskan untuk tidak mengajak bicara anak-anak ini, dengan pemikiran yang sangat sederhana “mereka ‘kan tidak mengerti”. Seringkali kesempatan anak-anak dengan kebutuhan khusus ini untuk bergaul dengan teman sebaya juga terbatas, sehingga mereka tidak punya pengalaman bergaul yang cukup untuk membentuk hubungan emosional yang sehat sesuai usia mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;strong&gt;SEKSUALITAS  PADA INDIVIDU AUTISTIC SPECTRUM DISORDER&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain gangguan perilaku dan gangguan komunikasi, masalah individu autis adalah dalam membentuk interaksi dengan orang lain. Masalah interaksi ini (DSM IV- R-2000), termanifestasi dalam bentuk gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-       kesulitan dalam menggunakan perilaku non-verbal seperti kontak mata, ekspresi wajah, postur tubuh, dan isyarat untuk mengatur hubungan sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-       kesulitan membentuk hubungan dengan teman sebaya yang sesuai dengan tahap perkembangannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-       ketidak-mampuan untuk secara spontan mencari orang lain untuk tujuan berbagi kesenangan, minat atau keberhasilan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-       ketidak-mampuan membentuk hubungan sosio-emosional yang timbal balik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewey and Everad (1974) menjelaskan bahwa individu autis bisa merasa tertarik pada orang lain, tapi gaya ekspresi seksualitas mereka seringkali naif, tidak matang dan tidak sesuai dengan usianya. Gangguan autism mereka tampaknya menghambat mereka dalam memahami sinyal-sinyal tersirat yang selalu ada dalam hubungan antar manusia. Jadi meskipun mereka mengalami perkembangan fisik yang kurang lebih sama dengan anak lain seusianya, tapi perkembangan emosi dan ketrampilan sosial mereka yang tidak berimbang cenderung menghambat mereka untuk berinteraksi secara positif dan efektif dengan orang lain (dalam hal ini lawan jenis). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temple Grandin menjelaskan bahwa interaksi sosial yang bagi orang lain merupakan sesuatu yang terjadi secara alamiah, baginya adalah hal yang paling sulit untuk ia pahami. Ia harus belajar melalui cara yang ‘coba-salah’ (=trial error) karena ia tidak paham harus berbuat apa. Bagi dia, manusia sulit ditebak, respons emosinya sangat rumit dan bergradasi, dan reaksi atas stimulus cenderung berubah-ubah. Ia harus terus menerus menalar interaksi sosial. Bahkan hingga kini, hubungan antar pribadi adalah hal yang tidak dipahami oleh Grandin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mempermudah dirinya sendiri, Grandin mengembangkan sistim untuk memahami interaksi sosial, yang ia sebut “Sins of the System”, yang terbagi atas 4 kelompok: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~      Really bad things. Misal: membunuh, membakar, mencuri dan berbagai larangan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~      Courtesy rules. Misal: tidak menerobos antrian, aturan saat makan, mengucapkan terima kasih,        menjaga kebersihan diri. Hal-hal yang penting untuk membuat orang lain merasa nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~      Illegal but not bad. Misal: sedikit ngebut di jalan raya, parkir di tempat terlarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~      Sins of the System (SOS). Misal: mengisap ganja, masuk penjara selama 10 tahun, dan perilaku seksual yang menyimpang. SOS adalah penalti yang sangat parah sehingga mengalahkan semua llogika. Kadang penalti untuk perilaku seksual menyimpang lebih parah daripada untuk pembunuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Grandin sangat bingung akan muatan ‘emosional’ yang terkandung dalam aturan-aturan hubungan antar pribadi, ia bahkan tidak berani membicarakannya karena takut melanggar SOS. Grandin paham bahwa aturan SOS di sebuah lingkungan bisa diartikan sebagai perilaku yang dapat diterima, sementara di lingkungan yang berbeda belum tentu (standard di setiap lingkungan tidak sama). Sementara itu, 3 aturan lain lebih bersifat permanen dan berlaku pada semua lingkungan sehingga bisa lebih dimengerti oleh Grandin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekhawatiran Grandin melanggar SOS membuatnya memilih untuk hidup melajang. Menurut Grandin, ia terhindar dari aneka masalah karena pilihannya tersebut. Grandin menganjurkan individu lain dengan autism untuk memahami bahwa “perilaku tertentu tidak bisa ditoleransi”. Karena itu, biasanya individu autis memutuskan untuk hidup melajang, atau bila memutuskan untuk menikah sekalipun, biasanya menikah dengan pasangan yang memiliki gangguan serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Grandin, sebuah survei atas 63 anak autis menunjukkan bahwa tidak satupun dari mereka menikah saat sudah dewasa (Rutter 1970). Kanner (1972) melakukan survei serupa pada 96 anak autis, tidak satupun secara bersungguh-sungguh memikirkan kemungkinan untuk menikah. Pada survei lain, 21 anak HFA (high-functioning autism) ditanya mengenai pengetahuan mereka, pengalaman dan keinginan mereka sehubungan dengan seksualitas (Ousley&amp;amp;Mezibov 1992). Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa lebih banyak frustrasi pada pria autis dewasa karena perbedaan antara minat terhadap aktifitas seksual dan pengalaman seksual mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa frustrasi tersebut tentu saja tidak sehat, apalagi bila anak bingung oleh berbagai perubahan fisik dan hormon dalam dirinya. Karena itu penting sekali memberikan informasi positif mengenai seksualitas sejak usia dini. Pendidikan seks yang terus menerus juga akan membantu mengurangi stres dan perasaan terisolir yang biasanya muncul pada individu autis remaja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat disimpulkan bahwa perilaku seksual individu autis sebenarnya tidak terganggu, tapi ekspresi mereka yang mencerminkan ketidak-matangan perkembangan sosial dan emosional mereka. Fakta membuktikan, individu autis mengembangkan perilaku seksual yang tidak seharusnya karena ketidak-mampuan mereka memahami norma dan aturan sosial, dan karena ketidak mampuan mereka berkomunikasi dengan efektif serta membentuk hubungan timbal balik. Pada saat bersamaan, kesulitan mereka dalam membayangkan berbagai hal membuat mereka mengalami kesulitan berfantasi sehingga pada akhirnya memerlukan rangsangan khusus sebagai upaya membantu memberi kepuasan pada kebutuhan seksual mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;PENDIDIKAN SEKSUALITAS BAGI INDIVIDU AUTIS&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Adams (1997), tujuan pendidikan seks bagi individu autis adalah untuk membuat individu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-        sadar dan menghargai ciri seksualitas diri sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-        memahami perbedaan mendasar antara anatomi pria dan wanita, serta peran masing-masing jender dalam reproduksi manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-        mengerti perubahan fisik dan emosi yang akan dialaminya, termasuk masalah-masalah        &lt;br /&gt;seperti menstruasi, mimpi basah, perasaan yang berubah-ubah, tumbuhnya bulu di &lt;br /&gt;sekujur tubuh, perubahan bau badan dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-        memahami bahwa tidak ada seorangpun punya hak melakukan tindakan seksual atas dirinya tanpa izin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-        memahami tanggung jawab yang terlibat bila kita memiliki keturunan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-        memahami bahwa cara-cara kontrol kelahiran (metode keluarga berencana) harus dilakukan, kecuali anak memang dikehendaki dan dapat dirawat dengan baik serta bertanggung jawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-        memahami peran dan tanggung jawabnya dalam menjaga kesehatan diri dan orang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-        tahu dan dapat mencari bantuan untuk masalah-masalah tertentu bilamana diperlukan (manakala terjadi pelecehan atau penularan penyakit)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-        memahami makna norma masyarakat mengenai perilaku seksual yang pantas di    &lt;br /&gt;lingkungannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil mengingatkan bahwa setiap individu berbeda, Schwier &amp;amp; Hingsburger (2000) mengusulkan untuk mengajarkan beberapa hal sesuai usia mental anak:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;◇           Antara 3-9 tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-        Beda laki dan perempuan (anatomi, kebiasaan, emosi, tuntutan  lingkungan dsb)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-        Beda tempat publik dan pribadi, nama anggota badan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-        Proses kelahiran bayi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;◇           Antara 9-15 tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-        Menstruasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-        Mimpi basah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-        Perubahan fisik lainnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-        Cara mengenali dan mengatakan ‘tidak’ pada sentuhan seksual oleh orang lain &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-        Proses ‘pembuahan’ yang menghasilkan bayi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-        Perasaan dan dorongan seksual&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-        Masturbasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;◇           Usia 16 tahun dan lebih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-        Proses terjadinya hubungan antar pribadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-        Proses berkembangnya dorongan seksual dan bagaimana mengatasinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-        Homoseksualitas (perasaan senang pada teman sejenis)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-        Beda antara cinta kasih dan hubungan seks&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-        Hukum dan konsekuensi dari menyentuh orang lain secara seksual&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-        Pencegahan kehamilan, metode keluarga berencana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-        Penularan penyakit seksual&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-        Tanggung jawab perkawinan dan memiliki anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 2 (dua) jenis pengarahan yang diperlukan anak sehubungan dengan topik di atas, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Anak harus tahu batasan hal-hal yang boleh atau tidak boleh dari perilakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Misal: tidak boleh membuka baju di depan orang lain, bagian tubuh mana dari orang lain yang masih pantas untuk disentuh (tangan, bahu), atau bagaimana menjaga kebersihan tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Anak harus diajarkan dasar-dasar ketrampilan sosial. Tanpa dasar seperti ini, ia akan sulit memasuki tahapan yang lebih rumit dari hubungan antar manusia seperti persahabatan, cinta, perkawinan, sampai ke hubungan seks. Biasanya individu tersebut sendiri yang menunjukkan apakah ia memiliki kebutuhan untuk sekedar berteman atau membentuk hubungan antar individu yang lebih rumit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menetapkan kebutuhan pengajaran pada anak, diperlukan pengamatan intensif. Misal: Anto disuruh teman-teman sebayanya mendatangi seorang gadis dan menyentuh dada gadis tersebut. Atau, Ali yang berdiri di kamar mandi dan buang air kecil dengan celana yang diturunkan hingga ke mata kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas tampaknya perilaku-perilaku tersebut tergolong perilaku seksual yang tidak pantas, tapi sesungguhnya lebih mewakili ketidak tahuan anak akan ‘hukum aturan sosial’ yang berlaku. Anto tidak tahu bahwa tidak boleh asal menyentuh dada gadis, sementara Ali juga tidak tahu bagaimana buang air kecil yang sepantasnya bagi pria dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak cukup hanya meminta anak membedakan bagian tubuh atau memahami bagaimana bayi terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penting mengintegrasikan aspek fisik, emosi dan sosial pada saat mengajarkan beberapa hal di atas. Anak harus mengerti sikap, nilai dan ketrampilan dasar tertentu untuk dapat berespons pada situasi yang berbeda-beda. Misalnya ketika belajar mengenai payudara-nya sendiri, seorang anak gadis harus tahu bahwa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~      Payudara memiliki tujuan estetika dan tujuan fungsi (aspek fisik)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~      Payudara adalah bagian tubuh yang ‘pribadi’ (aspek sosial)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~      Tidak nyaman membicarakan bagian-bagian tubuh pribadi begini, maka penting menemukan seseorang yang bersedia menjawab pertanyaan dan masalah (aspek sosial)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~      Banyak cara menolak upaya-upaya yang tidak diinginkan bila seseorang berusaha menyentuh payudaranya (ketrampilan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~      Kalau ada orang lain berusaha menyentuh payudaranya, ia mungkin akan merasa tidak nyaman (aspek emosional).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pengertian tentang perubahan fisik, aspek sosial, ketrampilan dan emosional; penting mengembangkan perasaan positif terhadap diri sendiri ( = self love &amp;amp; self acceptance ). Perasaan positif terhadap diri sendiri ini sangat penting dan menentukan. Beberapa kasus membuktikan kemungkinan yang sangat memprihatinkan bila seorang individu tidak merasa diterima apa adanya. Misal: Seorang wanita tidak suka penampilan dan dirinya sendiri. Begitu bencinya ia pada dirinya sendiri, sehingga ia bahkan tidak bisa bercermin. Setiap kali ia melihat bayangan dirinya sendiri, ia akan memukuli dirinya. Atau wanita lain yang hanya bisa berbisik ketika diminta menjawab pertanyaan orang lain. Atau wanita lain yang begitu saja membiarkan dirinya dijadikan obyek oleh laki-laki karena mendambakan kemungkinan melupakan bahwa dirinya ‘tidak menarik’ sehingga bahkan pelecehan atas dirinya ia biarkan saja karena ia artikan sebagai bentuk perhatian dari seseorang terhadap dirinya.Yang penting adalah memperhatikan tingkat pemahaman, kemampuan berbahasa, tingkat fungsi sosial, perilaku dan kematangan emosi setiap individu sehingga materi pengajaran juga dapat disesuaikan dengan kondisi anak.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;TIPS BAGI ORANG TUA DALAM MENGAJARKAN SEKSUALITAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua adalah pihak yang bertanggung jawab atas proses pengajaran seksualitas pada anak. Bagaimanapun, rumah adalah daerah ‘pribadi’ dimana anak diharapkan mengekspresikan kebutuhan seksualitasnya. Orang tua berkesempatan memperkenalkan nama anggota tubuh melalui kegiatan sehari-hari, orang tua bisa membentuk rutinitas kebiasaan anak sehingga anak paham konsep-konsep ‘publik’ versus ‘pribadi’, orang tua dan saudara kandung juga bisa menjadi model perilaku bagi anak. Selain itu, orang tua juga harus dilibatkan karena banyak pertimbangan nilai moral yang perlu diputuskan sebelum langkah-langkah penanganan bisa diambil. Misal: bagaimana mensikapi kebutuhan anak akan ekspresi seksualitas, apakah seorang anak diperbolehkan masturbasi atau tidak, akan sangat tergantung pada pandangan orang tua.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahaya pelecehan seksual oleh orang lain di luar keluarga juga menjadi alasan mengapa persiapan menghadapi masa remaja menjadi tanggung jawab orang tua. Bahaya tersebut tidak hanya dirasakan oleh orang tua anak perempuan, tetapi juga oleh orang tua anak laki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan dan informasi mengenai seksual bagi anak autis ini sebaiknya juga memperhatikan masalah kecemasan individual, terutama yang berhubungan dengan perubahan fisik dan emosi mereka. Beberapa hal yang harus dipertimbangkan saat merancang pendidikan seks bagi individu autis adalah untuk:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-    sebanyak mungkin menggunakan alat bantu visual&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-    membagi informasi atau penjelasan rumit ke dalam beberapa bagian yang lebih dapat dicerna anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-    memberikan penguat perilaku terutama untuk aturan-aturan dan struktur yang berhubungan dengan masalah seksualitas, misal: tentang bagian tubuh yang publik dan pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaya dalam mengajarkan konsep-konsep ketrampilan sosial, kesehatan, pendidikan seks dan pendidikan mengenai hubungan antar individu yang rumit, harus melalui strategi dan instruksi yang sudah terbukti berhasil bagi individu tersebut, antara lain melalui (Adams, 1997):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•         penjelasan singkat dan harafiah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•         contoh-contoh konkrit,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•         saat-saat belajar yang ‘tidak sengaja’,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•         cerita sosial (=social stories),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•         pengulangan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•         bermain peran (=role play),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•         tugas per langkah yang dipasangkan dengan alat bantu visual,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•         ‘errorless teaching’,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•         latihan memasangkan gambar dengan tulisan,  dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun, penguat perilaku positif dan sikap menerima keadaan anak apa adanya adalah dasar paling penting bagi pendidikan seksualitas yang efektif efisien bagi anak-anak autis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pengajaran berbagai konsep abstrak (antara lain: ‘publik’ dan ‘pribadi’) paling efektif dilakukan melalui teknik:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•         modeling  (memberikan contoh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•         penjelasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•         pengulangan (terus menerus)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misal: mengajarkan cara berpakaian, lakukan di tempat pribadi. Tutup pintu kamar mandi atau kamar tidur dan jelaskan kepada anak bahwa ini adalah perilaku yang pribadi, jadi kita harus tutup pintu. Kalau anak melakukan kekeliruan dan, misalnya, menyentuh kelaminnya di supermarket ketika sedang menimbang buah, langsung katakan dengan suara yang tenang, “Menyentuh diri sendiri juga perilaku pribadi. Kita tidak menyentuh bagian tubuh pribadi di tempat umum.”  Kalau tidak mungkin menarik anak ke daerah yang tertutup, coba alihkan perhatiannya ke hal lain dan diskusikan masalah ini begitu Anda sampai di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberikan contoh adalah hal penting, karena itu orang tua dan lingkungan individu autis juga harus menjaga sikap mereka untuk dapat menghasilkan individu autis dewasa yang bertanggung jawab. Bila orang lain di rumah mondar-mandir tanpa baju yang pantas, tentu saja sulit memberi pengarahan pada anak autis untuk berpakaian secara rapi sebelum keluar dari kamar. Atau bila ibu keluar kamar mandi hanya mengenakan handuk yang dililitkan, bagaimana pula anak paham bahwa ia harus berpakaian sebelum keluar dari kamar mandi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengajarkan konsep “apa”, lalu “kapan” dan “dimana” relatif lebih mudah dibanding mengajarkan “bagaimana” – yaitu dimana anak diajarkan untuk mengaplikasikan pengetahuan mengenai ketrampilan sosial dan seksualitasnya dalam situasi-situasi aktual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai pengajaran bagi individu dengan kebutuhan khusus yang bisa membantu mereka menyelesaikan masalah ‘pelecehan seksual’ adalah rumus sederhana berikut:  No-Go-Tell.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Mengatakan “Tidak” bukan hal mudah bagi seorang remaja yang didatangi orang lain yang lebih dari dia (lebih kuat, lebih tua, lebih matang, lebih percaya diri, lebih cerdas). Anak harus paham bahwa pribadi berarti tubuhnya adalah miliknya, dan tidak ada orang lain yang boleh asal sentuh bagian tubuhnya tanpa izinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Pergi, menuntut individu untuk mendobrak sesuatu. Dalam situasi yang penuh ketegangan, biasanya anak ditekan untuk melakukan sesuatu, bagaimana melakukannya, dan tidak boleh bilang-bilang. Untuk bisa pergi dari situasi seperti itu atau berusaha untuk lari, menuntut anak untuk paham bahwa tidak semua perintah harus dituruti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    Mengatakan pada orang lain (=lapor), menuntut seseorang untuk melanggar janji atau melawan ancaman. Tidak mudah karena biasanya anak-anak ini berada di bawah tekanan dan kontrol dari jauh melalui ancaman. Untuk dapat melapor, anak harus paham bahwa ia yang menentukan fakta apa bisa dikatakan sebagai rahasia, dan ia yang menetapkan fakta apa yang bisa digolongkan sebagai ‘aman’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, KAPAN kita mulai proses pendidikan seksualitas ini ? Mengingat bahwa seksualitas mencakup begitu banyak aspek (pikiran, perasaan, sikap dan perilaku seseorang terhadap dirinya), maka proses pengajaran sudah seharusnya dimulai sejak  usia dini. Setidaknya anak sudah dibekali mengenai aturan dan norma sosial yang berlaku yang membedakan antara sikap, perilaku pria &amp;amp; wanita dari yang paling sederhana (anatomi berbeda, toilet berbeda dsb) hingga yang paling abstrak (tanggung jawab dan kodrat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan seksual merupakan sebuah proses berkesinambungan, berawal dari masa kanak hingga masa dewasa. Tujuan pendidikan seksualitas bukan agar individu dapat info sebanyak mungkin, tetapi untuk dapat menggunakan informasi secara lebih fungsional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengupayakan proses pendidikan seksualitas yang memiliki hambatan minimal, ada beberapa prinsip yang bisa dijadikan acuan dalam bertindak (Spragg, 2001):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.   Ciptakan suasana keterbukaan sehingga anak tidak sungkan bertanya mengenai masalah seksualitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bila sikap kita menyiratkan “tabu”, atau “enggan”, maka anak lebih mendengarkan informasi dari luar rumah, yang mungkin saja tidak sesuai dengan apa yang seharusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.   Bila anak tampak tertarik dengan topik ini, gunakan saat tersebut untuk masuk ke dalam pembahasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Biasanya bila ia mulai memperhatikan kehamilan, orang menyusui, perbedaan wanita &amp;amp; pria, dan sebagainya. Sebaliknya, bila anak tampak tidak menunjukkan tanda-tanda ketertarikan, ini bukan alasan bagi kita untuk menunda diskusi mengenai masalah seksualitas. Bisa saja ia tidak tampak tertarik karena ia tidak percaya diri atau tidak yakin. Kita tidak bisa mengelak, karena perkembangan fisiknya segera akan membuatnya tersadar akan perubahan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.   Berikan informasi dasar yang sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan komunikasinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya, informasi mencakup anatomi, konsep bagian badan ‘pribadi’, sentuhan baik &gt;&lt; buruk, masturbasi, hubungan antara jender sejenis dan lawan jenis dan sebagainya. Berikan informasi dalam bentuk yang dapat ia pahami. Tentu saja tingkat pemahaman akan sangat mempengaruhi. Hindari memberikan informasi yang terlalu banyak, tidak perlu atau tidak mereka pahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.   Gunakan strategi instruksi yang konkrit, bermakna dan individual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Informasi sebaiknya ditampilkan dalam bentuk yang paling mudah diproses. Misal, mereka umumnya visual learners, jadi gunakan visual cues. Instruksi verbal sebaiknya sederhana dan konkrit, dan tambahkan materi audio-visual dan gambar. Hindari penggunaan konsep abstrak dan gaya bahasa metafor. Informasi juga sebaiknya diberikan dalam bentuk ‘chunks’ (kelompok kecil) yang terus menerus diulang-ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.   Kembangkan aturan mengenai perilaku seksualitas yang boleh dan tidak boleh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajarkan konsep-konsep: publik &gt;&lt; pribadi, batasan ‘pribadi’, kesadaran akan keselamatan diri, izin dan tanggung jawab pribadi dalam kaitannya dengan perilaku seksual yang bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak sulit melihat dari sudut pandang orang lain, karena itu harus dilatih melalui bermacam ilustrasi konkrit atau dengan mengajarkan berbagai aturan bagaimana bersikap. Misal: aturan waktu dan tempat untuk melakukan masturbasi, tidak boleh menyentuh orang lain tanpa izin, menghindari berbincang dengan orang yang tidak dikenal dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.    Jangan abaikan sisi perasaan dari perilaku seksual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hindari terlalu terpusat pada diskusi mengenai perilaku hubungan seks itu sendiri. Penting bagi anak utnuk dapat membedakan berbagai jenis hubungan (persahataban, hubungan kasih, cinta, hubungan kerja dsb). Perasaan yang berkaitan dengan hubungan yang berbeda-beda ini juga berbeda-beda, tidak saja dalam hal intensitas dan fokus tetapi juga dalam hal ekspresi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Garis bawahi bahwa hubungan intim seksual adalah bentuk mengekspresikan ‘kasih’ dan ‘perhatian’, dan bukan sekedar aktifitas biologis. Sebaliknya, bisa juga kita mengungkapkan rasa kasih dan perhatian melalui cara lain selain hubungan seksualitas tersebut. Jangan lupa tekankan bahwa dorongan seksual tersebut seringkali harus dikontrol dan ditahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.   Dorong anak untuk aktif dalam kegiatan atau pergaulan dengan teman sebaya sehingga ia aktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beri anak kesempatan untuk memiliki pengalaman bergaul dengan teman sebaya (lawan jenis atau tidak) agar ia paham bahwa kegiatan yang bermacam-macam dengan berbagai teman perlu berakhir dengan hubungan seksual. Respons teman sebaya juga merupakan media yang sesuai untuk mengajarkan ‘batasan’ dalam perilaku fisik saat bergaul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.   Ajarkan makna ‘nilai’ dan ‘moral’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Mengajarkan makna ‘nilai’ dan ‘moral’ adalah hak dan kewajiban orang tua. Konsep-konsep ini sangat membantu anak menetapkan batasan, terutama ketika mereka bingung atau keadaan sangat tidak jelas sehingga mereka tidak tahu harus berespons bagaimana. Nilai dan moral ini juga bisa menjadi landasan orang tua mengembangkan ‘self-respect’ dan ‘self-esteem’ yang positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESIMPULAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seksualitas adalah konsep yang sangat luas, mencakup berbagai aspek yang perlu diketahui anak sebagai bekal menghadapi masyarakat ketika mereka beranjak remaja dan dewasa. Proses pengajaran berada di tangan orang tua, karena batasan ‘norma’, ‘kebiasaan’ dan ‘aturan’ perlu ditegakkan oleh orang tua di lingkungan ‘pribadi’ yaitu di rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua perlu membedakan antara seksualitas dan hubungan seks. Penting sekali memberikan informasi jelas, bermakna dan konkrit bagi anak agar mereka dapat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•   mensikapi perubahan fisik dan psikis saat pubertas tanpa cemas berlebihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•   memahami bahwa hubungan antar pribadi sangat rumit dan perlu pertanggung jawaban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•   menghargai diri sendiri sehingga bersikap waspada dalam menjaga diri &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•   memecahkan masalah bila mereka dihadapkan pada lingkungan yang melecehkan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;==***==&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*)            Penulis adalah Psikolog, Pendiri / Pengurus Yayasan Autisma Indonesia, Penanggung Jawab Pendidikan pada Sekolah Khusus Autisma “MANDIGA” – Jakarta, dan ibu dari Ikhsan Priatama Sulaiman, individu autisma berusia 11 tahun 9 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KONTAK:  dyahpspt@dnet.net.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~      Sekolah Khusus Individu Autisma “MANDIGA” – Jl. Erlangga II / 12 – Kebayoran Baru – Jakarta 12110. Telp. 021-722-0178,  Fax. 021-727-91364&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~      Yayasan Autisma Indonesia – Jl. Buncit Raya no. 55 – Jakarta Selatan. Telp. 021-7971945&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;REFERENSI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;◇        Adams, Janice L.; Autism-PDD, More Creative Ideas from Age Eight to Early Adulthood, 1997, Adams Publication, Ontario-Canada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;◇        Grandin, Temple; Thinking in Pictures – and other reports from my life with autism, 1995, Doubleday, New York, USA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;◇        Schwier, Karin Melberg &amp;amp; Hingsburger, Dave, Sexuality – Your Sons &amp;amp; Daughters with Intellectual Disabilities, 2000, Paul.H.Brookes Publishing Co., Maryland-USA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;◇        Spragg, Paul A. Ed.D; On Birds, Bees and Disabilities in Autism-Asperger’s Digest Magazine, Jan-Feb 2001, Future Horisons Publishing Co., USA.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7436858231137669508-8477122442396357832?l=wwwimanuelhomeschooling.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7436858231137669508/posts/default/8477122442396357832'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7436858231137669508/posts/default/8477122442396357832'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wwwimanuelhomeschooling.blogspot.com/2009/04/seksualitas-bagi-autis-remaja.html' title='Seksualitas Bagi Autis Remaja'/><author><name>imanuel homeschooling</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_eYV7Yz0dsLI/S8mBmuFyjfI/AAAAAAAAAAc/tjQ57s8ehxU/S220/Picture+001.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7436858231137669508.post-5151985891065057723</id><published>2009-04-08T01:18:00.000-07:00</published><updated>2009-04-08T01:39:38.313-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;     Imanuel Homeschooling &lt;span style="color:#3366ff;"&gt;(IHS)&lt;/span&gt; merupakan salah satu bentuk tempat atau wadah bagi anak-anak berkebutuhan khusus dapat belajar baik secara akademik maupun pengembangan diri lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;IHS terbentuk karena banyaknya orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK) merasa kecewa dengan sisitem pendidikan bagi anak-anak mereka,dimana target pencapaian baik secara akademik dan pengembangan diri tidak dapat maksimal atau seperti yang diharapkan. Di dalam IMANUEL homeschooling(IHS), anak-anak peserta didik akan didampingi oleh tutor/guru-guru yang sabar, telaten dan sayang serta berpengalaman dalam mendidik anak -anak berkebutuhan khusus.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Semuanya ini terkait dengan komitmen para tim guru yang sesuai dengan &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;visi&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;em&gt;misi&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;dan &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;motto&lt;/span&gt; &lt;/em&gt;dalam IHS, yaitu:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Visi      : &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;em&gt;Smart Perent, Smart Child&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;Misi     : &lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Menumbuhkan rasa percaya diri dan kemandirian anak-anak &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;                 berkebutuhan khusus dalam lingkungan keluarga dan masyarakat&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Motto : &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Kami peduli pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;     Adapun program pendidikan dalam Imanuel Homeschooling meliputi:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;1. Pengembangan pengenalan diri&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;2. Pengembangan sensor motorik&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;3. Pengembangan berbahasa reseptif dan ekspresif&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;4. Pengembangan motorik kasar dan halus&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;5. Pengembangan kemampuan mengurus diri&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;6. Pengembangan emosi dan mental spiritual&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;7. Mengurangi dan berusaha menghilangkan perilaku yang menyimpang&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Segala bentuk program pendidikan disesuaikan dengan tingkat kebutuhan peserta didik/murid.&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7436858231137669508-5151985891065057723?l=wwwimanuelhomeschooling.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7436858231137669508/posts/default/5151985891065057723'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7436858231137669508/posts/default/5151985891065057723'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wwwimanuelhomeschooling.blogspot.com/2009/04/imanuel-homeschooling-ihs-merupakan.html' title=''/><author><name>imanuel homeschooling</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_eYV7Yz0dsLI/S8mBmuFyjfI/AAAAAAAAAAc/tjQ57s8ehxU/S220/Picture+001.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7436858231137669508.post-9037391681756868834</id><published>2009-03-24T04:50:00.000-07:00</published><updated>2009-10-25T20:23:54.735-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;Imanuel Homeschooling&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Memberikan pelayanan pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus (AUTIS, SLOW LEANER, ASPENGER SINDROME, TERLAMBAT BICARA, TERLAMBAT PERKEMBANGAN DAN ADHD)&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Keterangan Lebih lanjut Hubungi:&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Ibu Imelda&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;0881 9450 299&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Saat ini masih melayani hanya di kota Surabaya&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7436858231137669508-9037391681756868834?l=wwwimanuelhomeschooling.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7436858231137669508/posts/default/9037391681756868834'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7436858231137669508/posts/default/9037391681756868834'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wwwimanuelhomeschooling.blogspot.com/2009/03/imanuel-homeschooling-memberikan.html' title=''/><author><name>imanuel homeschooling</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_eYV7Yz0dsLI/S8mBmuFyjfI/AAAAAAAAAAc/tjQ57s8ehxU/S220/Picture+001.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7436858231137669508.post-7155496197740521895</id><published>2009-03-24T04:25:00.000-07:00</published><updated>2009-03-24T04:28:54.580-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>imanuel homeschooling&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7436858231137669508-7155496197740521895?l=wwwimanuelhomeschooling.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7436858231137669508/posts/default/7155496197740521895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7436858231137669508/posts/default/7155496197740521895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wwwimanuelhomeschooling.blogspot.com/2009/03/imanuel-homeschooling.html' title=''/><author><name>imanuel homeschooling</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_eYV7Yz0dsLI/S8mBmuFyjfI/AAAAAAAAAAc/tjQ57s8ehxU/S220/Picture+001.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7436858231137669508.post-7916234356686485546</id><published>2009-03-24T03:32:00.000-07:00</published><updated>2009-03-24T03:33:33.454-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7436858231137669508-7916234356686485546?l=wwwimanuelhomeschooling.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7436858231137669508/posts/default/7916234356686485546'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7436858231137669508/posts/default/7916234356686485546'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wwwimanuelhomeschooling.blogspot.com/2009/03/blog-post.html' title=''/><author><name>imanuel homeschooling</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_eYV7Yz0dsLI/S8mBmuFyjfI/AAAAAAAAAAc/tjQ57s8ehxU/S220/Picture+001.jpg'/></author></entry></feed>
